Sosialisasi empat pilkar kebangsaan di Labuan Bajo, Senin 10 April 2017 (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co – Pancasila sebagai dasar negara merupakan harga mati. Apapun ideologi atau paham yang berupaya memecah kerukunan yang ada di wilayah NKRI, harus dibubarkan.

Demikian intisari seminar Empat Pilar Kebangsaan, yang digelar pada Senin 10 April 2017 di Lapangan SMK Stela Maris, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hadir sebagai pemateri seminar itu anggota DPR RI dari Partai Nasdem, Johnny G Plate; Kapolres Manggarai Barat, AKBP Supiyanto dan Danramil 1612 02 Komodo, Sulaiman.

Ada juga perwakilan tokoh agama, yakni Pastor Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, Romo Rikardus Manggu, Pr dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Mabar,  Zakarias Zangkur.

Johnny mengatakan, NKRI bukan negara milik agama tertentu ataupun suku tertentu.

“Indonesia bukan negara agama, Indonesia berideologikan Pancasila, berasaskan UUD 1945,” ujar Johnny di hadapan ratusan peserta seminar.

Menurutnya, tantangan bangsa saat ini adalah masalah kesejahteraan, hegemoni dunia, proxy war, radikalisme dan terorisme.

”Mari kita bersama-sama melawan kelompok radikal. Untuk melawan mereka, bukan hanya tugas TNI/Polri. Tokoh agama, tokoh masyarakat juga kelompok masyarakat harus ikut berperan melawan kelelompok yang berupaya memecah belah keutuhan NKRI,” katanya.

Khusus untuk Mabar, ia mengajak masyarakat untuk menjaga situasi, mengingat Labuan Bajo merupakan destinasi wisata dunia.

”Saya yakin di Labuan Bajo tidak ada teroris dan kelompok radikal, karena masyarakat di sini hidup tentram,” ujarnya.

AKBP Supiyanto mengatakan, selama bertugas di wilayah NTT, kehidupan masyarakatnya sangat harmonis.

”Baik di Sumba maupun Kabupaten Manggarai Barat situasinya aman. Selama saya bertugas, tidak ada satu pun permasalahan yang mengancam keharmonisan,” ujar mantan Kapolres Sumba Timur ini.

Supiyanto mengajak masyarakat untuk tetap merawat situasi harmonis ini.

“Polisi selalu siaga mencegah aksi kelompok radikal,” ujarnya.

Sulaiman dari TNI mengatakan saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami proxy war.

”Perang yang tidak menggunakan senjata (tetapi) memanfaatkan orang (pihak ketiga) untuk menguasai Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Romo Rikard mengajak seluruh masyarakat Mabar dan masyarakat Indonesia untuk bergandengan tangan mewujudkan keharmonisan agar negara ini makin maju dan berkembang.

Senada dengan pembicara lain, Zakarias dari MUI mengatakan, NKRI merupakan rumah milik bersama.

Islam, menurut dia, bukanlah sumber radikalisme dan terorisme “Kalau dia radikal dan teroris, dia bukanlah Islam yang baik,” ujarnya.

Desi Datal, siswi Kelas II SAMK Stela Maris pada sesi dialog mempertanyakan sosialisasi empat pilar kebangsaan yang sering dilakukan, tetapi saat bersamaan aksi terorisme masih terjadi di Indonesia.

“Dalam beberapa kasus, Negara selalu terlambat menangani kasus teroris. Apakah ini upaya pembiaran, ataukah sosialisai empat pilar itu gagal?” katanya. (Ferdinand Ambo/Floresa)