BerandaPOLITIKPembunuh Jurnalis Asal Ruteng...

Pembunuh Jurnalis Asal Ruteng Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara

Floresa.coPelaku pembunuhan Maria Yeane Agustuti atau Manda, jurnalis asal Ruteng dikenai ancaman penjara paling lama 15 tahun, demikian keterangan polisi.

Kapolres Palu, AKBP Chris Reinhard Pusung mengatakan, mereka sudah berhasil mengidentifikasi motif pelaku, yang adalah suami Manda sendiri.

Jurnalis yang di kampung halamannya di Ruteng dipanggil Tuti itu dan bekerja pada media Palu Ekspres dibunuh di rumah kosnya di Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat 17 Maret 2017.

Pusung mengatakan, motif pembunuhan karena tersangka Rinu Yohanes  Sandipu jengkel setelah tidak diberi uang oleh istrinya.

“Pelaku kami sangkakan dengan pasal 44 ayat 3, UU nomor 23 tahun 2004, yaitu tentang KDRT. Ini untuk sementara kami sangkakan untuk KDRT,” kata Pusung, sebagaimana dilansir Palu Ekspres, Jumat 24 Maret.

Kapolres mengabaikan motif pengaruh narkoba mengingat sempat beredar pelaku kerap mengonsumsi narkoba.

“Bukan pelaku narkoba. Menurut pengakuannya, ia menggunakan narkoba sejak dua bulan lalu,” ungkapnya.

Saat ini, jelasnya, mereka sedang mematangkan rekonstruksi untuk mengetahui proses terjadinya pembunuhan.

Sejauh ini, Pusung belum memastikan pelaksanaan rekonstruksi apakah di tempat kejadian peristiwa atau cukup di Polres saja.

Yohanes, pelaku tunggal telah diamankan oleh tim dari Polres Poso, pada Sabtu, 18 Maret 2017 malam, sekitar pukul 23.00 Wita di Desa Bega, Kelurahan Mapane, Kecamatan Poso Pesisir di rumah teman pelaku berinisial BD.

Almarhum Manda telah dikebumikan di kampung kelahirannya di Kelurahan Redone – Manggarai, Nusa Tenggara Timur pada Senin, 21 Maret 2017 lalu. (Palu Ekspres/ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Surat Domba untuk Gembala: Bapa Uskup, Akhiri Penderitaan Gereja dan Umat Keuskupan Ruteng

Floresa.co - Polemik di Keuskupan Ruteng yang memanas setelah pada pertengahan Juni...

Sudah Seharusnya Cara-cara Represif Ditinggalkan

Seharusnya polisi bisa bertindak lebih bermartabat dari sekadar mendaur ulang cara kekerasan. Pelaku wisata dan warga bukan musuh, apalagi mereka hanya ingin menuntut haknya. Menabur benih kekerasan hanya akan menuai konflik berkepanjangan.