Proyek Jalan Raya Senilai Rp 1,4 Miliar di Mabar Diduga Dikerjakan Asal Jadi

1937
Ruas jalan Wersawe-Meleng di Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat. Mobil terpaksa melintasi kali karena belum ada jembatan. Ada dua kali di antara Wesawe dan Meleng, namun tidak ada jembatan di kedua kali itu. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co – Proyek ruas jalan Wersawe-Meleng di dekat area pariwisata Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) – Flores, diduga dikerjakan asal jadi.

Pasalnya, ruas jalan yang dikerjakan tahun 2015 dengan anggaran Rp 1,4 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) ini kondisinya kini sudah rusak. Kontur jalan juga bergelombang.

Jesi, seorang pekerja proyek yang juga warga setempat mengatakan, ia pernah menyampaikan ke kontraktor agar membuat selokan air sesuai topografi tanah sehingga saat musim hujan, air tidak menggenangi badan jalan.

”Waktu musim hujan jalan ini rusak parah, terkikis hingga 30-an meter. Saat pengerjaan, kita sampaikan ke kontraktor agar membuat selokan sesuai kondisi tanah, sebab di wilayah ini curah hujan tinggi,” ujar Jesi.

Namun, masukan pekerja itu tak dihiraukan oleh kontraktor. “Ya, beginilah akibatnya, jalan cepat rusak,” ujarnya.

Menurutnya, selokan yang dibuat kontraktor saat ini tidak dialiri air ketika hujan tiba. Air hujan malah menggenani badan jalan.

Jesi mengungkapkan, pihak kontraktor baru saja memperbaiki titik jalan yang rusak. “Ada puluhan meter aspal terkupas beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Ia juga kecewa karena hingga kini masih ada upah harian pekerja yang belum dibayar kontraktor.

“Meski jumlahnya kecil, kami berharap mereka tidak mengabaikan begitu saja,” ujarnya.

Terpisah, Modes Suherman, kontrator pelaksana proyek jalan tersebut mengaku sudah memperbaiki jalan yang rusak itu.

”Ketika kita sudah selesai pekerjaan, air hujan turun ke situ dari arah gunung,” ujarnya sambil menambakan, ini mengakibatkan jalan rusak dan aspal terkelupas sepanjang sekitar 30 meter.

Pipa parlon dipasan di bawah aspal untuk mengatasi genangan air (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)
Pipa paralon dipasan di bawah aspal untuk mengatasi genangan air (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Untuk mengatasi air yang menggenai badan jalan, Modes mengatakan, pihaknya memasang pipa paralon dengan membongkar kembali aspal yang sudah ada.

Terkait selokan, ia mengatakan pihaknya sudah membuat selokan sesuai RAB.

Ia mengakui air memang masih menggenangi badan jalan.

“Itu air dari gunung,” katanya.

Terkait kondisi badan jalan yang bergelombang, menurut Modes, itu mungkin karena air hujan.

“Mungkin pengaruh hujan, memang kita sudah kerja sesuai RAB. Saya sudah habis banyak perbaiki yang rusak sekitar 30-an meter. Semua aspal terkikis saat hujan,”ujarnya.

Modes mengungkapkan proyek ini dikerjakna oleh CV Mikrofon Karya. Direktur perusahaan ini adalah Mikael Gildus.

Di Labuan Bajo, berembus isu, Modes selaku kontraktor pengerjaan proyek tersebut sudah “berdamai” dengan aparat hukum sehingga proyek asal jadi ini tidak diproses.

Modes tidak membantah atau pun mengakui isu tersebut. ”Cukup ite (Anda) dan saja saja yang tahu. Hal itu tidak usah dibahas,” ujarnya.

Pantauan Floresa.co, Sabtu 17 September lalu, ketika hujan mengguyur wilayah itu pada sore hari, beberapa titik badan jalan itu digenangi air.

Sebuah deker yang dikerjakan kontraktor tampak tidak dialiri air. (Ferdinand Ambo/Floresa)