Pagar di pintu utama akses ke Pantai Pede diinjak-injak warga. Mereka menyatakan, PT SIM tidak memiliki hak untuk mengelola pantai itu. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Floresa.co – Warga di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) pada hari ini, Senin, 19 September 2016 membongkar pagar seng di Pantai Pede, Labuan Bajo yang dibangun oleh PT Sarana Investama Manggabar (PT SIM), perusahan swasta yang hendak membangun hotel di pantai itu.

Aksi pembongkaran ini diawali dengan aksi unjuk rasa elemen masyarakat yang terdiri atas aktivis, tokoh agama dan pelaku pariwisa.

Unjuk rasa dimulai dari Pastoran Paroki Roh Kudus, Labuan Bajo.

Sebelum menuju Pantai Pede, para aktivis mendatangi kantor Bupati Mabar untuk menyampaikan sikap mereka terkait pengelolaan Pantai Pede pasca diterbitkannya surat Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pekan lalu.

Para aktivis yang tergabung dalam Koalisi Pede ini berorasi di luar kantor bupati.

Mereka menuntut tindak lanjut dari keputusan Menteri Tjahjo yang memerintahkan agar pihak lahan di Pantai Pede diserahkan ke Pemda Mabar.

Selama lebih dari sejam, mereka bertahan di bawah terik matahari. Namun, ternyata Bupati Agustinus Ch Dula tidak berada di kantor. Ia dikabarkan berada di Lembor.

BACA JUGA:

Warga Bongkar Pagar PT SIM di Pantai Pede

Wakil Bupati Maria Geong juga tak ada di tempat, begitu juga Sekretaris Daerah, Rofinus Mbon.

Yang ada, hanya para pegawai pemerintahan yang sedang main tenis meja. Namun, meskipun suara yang terdengar dari pengeras suara begitu besar dan memekakan telinga, para pegawai itu tetap asyik bermain.

Saat para aktivis membacakan surat dari Menteri Tjahjo, mereka tetap menghitung skors dan menikmati permainan. Mereka tidak menghiraukan warga yang sedang berunjuk rasa.

Masih beruntung, karena kemudian salah seorang asisten bupati menemui Koalisi Pede.

Para aktivis pun menyampaikan maksud kehadiran mereka, sambil menyapa secara adat (kapok) dengan membawa tuak, ayam jantan dan pecahan uang ribuan rupiah yang dikumpul dari masyarakat.

Dari kantor bupati, mereka selanjutnya menuju kantor DPRD Manggarai Barat. Di sana, mereka juga menyerahkan seekor ayam jantan dan tuak.

Mereka diterima Ketua DPRD Mabar Belasius Jeramun, didampingi dua wakil ketua, yakni Fidelis Syukur dan Abdul Ganir.

Usai menggelar dialog, koalisi mendesak DPRD Mabar segera mengeksekusi surat Mendagri.

Dari DPRD, masyarakat selanjutnya menuju Polres Mabar. Mereka memasuki halaman Polres menggunakan mobil pick up yang membawa sejumlah spanduk kecaman.

Di Polres mereka diterima Wakpolres Mabar. Masyarakat meminta kepada polisi agar tidak berpihak kepada kaum kapitalis dan tidak menakut-nakuti masyarakat.

”Kami berharap kepolisian mengayomi dan melindungi masyarakat serta tidak menakuti-nakuti,” ujar Bernadus Barat Daya, Koordinator Koalisi Pede.

Bernadus juga meminta polisi untuk mendata seluruh preman yang dibayar PT SIM.

”Kami dengar PT SIM membayar 200 orang preman untuk melawan masyarakat yang menolak privatisasi Pantai Pede. Mohon kepolisian memantau mereka-mereka itu,” ujarnya.

Dari Polres Mabar, mereka menuju ke Kampung Ujung untuk menyampaikan sikap masyarakat terkait pembangkangan pemerintah.

Setelah melintasi Kampung Ujung, massa lalu bergerak menuju Pantai Pede.

Di pintu utama jalan masuk ke Pantai Pede, massa langsung mendorong dan membongkar pagar seng yang telah dibangun PT SIM.

Tidak mudah merobohkan pagar pembatas itu, sebab dibangun dengan kayu penyanggah yang kokoh.

Aksi pembongkaran ini sempat memancing pihak PT SIM.

Dari arah selatan, sejumlah pekerja mendatangi pintu masuk yang digedor aktivis. Terlihat beberapa pekerja membawa senjata tajam dan kayu besar.

“Ayo kita lawan mereka,” ujar seorang pekerja.

Para pekerja di bawah pimpinan Koce Janggat, yang diketahui merupakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra mencoba menggertak para aktivis. Namun, para aktivis tak gentar.

”Merdeka, merdeka. Kita bisa kembali menikmati alam indah ini,” teriak Doni Parera, salah satu aktivis.

Saat itu, polisi bersiaga di lokasi. Aparat menghadang pihak PT SIM untuk tidak menggunakan kekerasan.

Doni pun langsung mengajak seluruh masyarakat yang berteduh di bagian utara Pantai Pede agar segera menikmati pantai yang selama beberapa hari ditutup.

Pedagang kaki lima yang selama ini sudah tidak boleh berjualan di Pantai Pede ikut gembira.

“Terimakasih Tuhan, terima kasih masyarakat Mabar. Hanya ini tempat bagi kami orang kecil,” ujar salah seorang pedagang.

“Syukur pintu sudah dibuka kembali.” (Ferdinand Ambo/PTD/ARL/Floresa)

Berikut video saat aksi pembongkaran pagar: