Para pemateri dalam seminar yang digelar warga Manggarai di Malang pada Jumat 20 Mei 2016. (Foto: Indra Randu)

Floresa.co – Warga asal Manggarai Raya yang berdomisili di Malang, Jawa Timur menggelar seminar pada akhir pekan lalu, dengan menghadirkan para pembicara yang mengupas sejumlah persoalan aktual di Manggarai.

Seminar yang difasilitasi oleh Komunitas Ngobrol Pintar (NgoPi) Generasi Muda Manggarai-Malang itu berlangsung pada Jumat, 20 Mei 2016 di Gedung Pusat Penelitian Ilmiah  Universitas Merdeka Malang.

Dikemas dalam bentuk lonto leok, seminar itu mengusung tema “Menjadi Manusia Baru untuk Membangun Manggarai Masa Depan (Refleksi 108 Tahun Hari Kebangkitan Nasional).”

Para pemateri antara lain, pengamat politik  Boni Hargens; dosen Universitas Merdeka Malang, Yustina Ndung dan imam Keuskupan Ruteng yang sedang kuliah S3 di Malang, Romo Yohanes Mariano Dangku Pr.

Proses diskusi dipandu oleh Ardo Tamba, mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam seminar yang berlangsung selama 4 jam tersebut, antusiasme peserta yang mencapai 475 orang sangat tinggi.

Bahkan, banyak di antara mereka yang kemudian berdiri selama seminar, karena semua tempat duduk sudah terisi.

Dalam paparannya, Boni Hargens yang menjadi pembicara utama menyoroti masalah sumber daya orang muda Manggarai.

Boni juga banyak membagikan pengalaman pribadinya dari awal karir hingga kemudian bisa banyak berkontribusi dalam kapasitasnya sebagai akademisi, maupun sebagai pengamat politik.

Kepada orang muda ia menekankan pentingnya bermimpi tentang masa depan mereka.

“Jangan pernah berhenti bermimpi, bermimpi saja menjadi apapun yang kamu inginkan. Orang yang tidak berani bermimpi, mending banyak berdoa, biar cepat mati,” ujar Boni.

Ia juga menyentil banyak tentang persoalan di tingkat lokal, termasuk praktek busuk yang dilakukan oleh kepala daerah di Nusa Tenggara Timur.

“Anggaran dari pusat hampir 60%  dirampok di Kupang, selebihnya dirampok oleh kepala-kepala daerah,” katanya.

Sementara itu, Romo Ino Dangku menyoroti gejala demanggarainisasi yang menggerogori orang-orang Manggarai. Gejala itu, kata dia, merujuk pada lunturnya identitas sebagai orang Manggarai dan sebagai orang Katolik.

Yustina Ndung berbicara tentang pentingnya kesatuan dan persatuan orang Manggarai.

Menurutnya, Manggarai bukan soal wilayah administrasi, tetapi sebenarnya Manggarai memiliki satu kesamaan dalam hal nilai-nilai kultural.

Dalam pernyataan penutup diskusi, pembina Komunitas NgoPi, Profesor Aloysius R. Entah, guru besar di Universitas Merdeka Malang  menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme para peserta seminar.

Sementara itu, koordinator Komunitas NgoPi, Yergo Arnaf mengatakan, seminar ini bertujuan merangkul mahasiswa Manggarai di Malang dan membangun kesadaran kolektif sebagai generasi muda yang punya tugas menata Manggarai di masa depan. (Kontributor Vitus Priatama/ARL/Floresa)