Tarian kolosal menyambut peserta TdF di Labuan Bajo, Senin 23 Mei 2016. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Floresa.co – Gegap gempita Tour de Flores tidak hanya melahirkan sukacita dan kebanggaan menyaksikan atlet sepeda dari sejumlah negara, tetapi juga memuat cerita-cerita peminggiran di balik acara akbar yang menelan dana miliaran rupiah itu.

Sebagian dari cerita peminggiran itu dapat dilihat dalam penyelenggaran etape terakhir Tour de Flores yang berlangsung di Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat, Senin, 23 Mei 2016.

Berikut lima cerita peminggiran itu menurut pantauan Floresa.co.

Wartawan Nasional vs Lokal

Sekitar 20 menit sebelum para atlet sepeda tiba, para wartawan sudah berebut salah satu spot di area setelah garis finish. Mengenakan rompi tanda pengenal, mereka siap siaga dengan kamera panjang. Momen-momen di garis finish jadi rebutan untuk dijepret.

Tiba-tiba saja seorang wartawan lokal melintas di depan seorang wartawan foto yang kameranya disanggah dengan tripod. Ia lantas menegur keras, “Kenapa lewat di sini?”

Seperti tak memahami situasi itu, wartawan lokal itu hanya tersenyum. Rupanya kejadian itu cukup membuat wartawan berseragam itu marah besar. Dengan dialek Jakartanya, dia bertanya lagi, “Mana kartu persmu?”

Ia serentak diperhatikan oleh para wartawan foto yang lain. Sembari tertawa dan bercakap-cakap seperti sedang gosip, mereka memperhatikan wartawan lokal itu menjauh dari mereka.

EO dan Panitia Lokal

Kesan ketidakcocokan antara panitia lokal dan Event Organiser (EO) terungkap sepanjang acara berlangsung.

Berkali-kali Master of Ceremony (MC) mengumumkan agar EO segera berkoordinasi dengan panitia lokal.

Kalau sekali mungkin tidak apa-apa. Entah sadar atau tidak, berulangkali MC mengumumkan hal yang sama. Kesannya sangat menganggu. Mulai dari sebelum makan sampai sesudah acara makan.

Sekali waktu, MC dengan nada tinggi mengatakan, “Mana EO? Pak Robert mana?”

Memperhatikan persiapan acara Tour de Flores selama ini, konflik demikian tidaklah mengherankan. Kesan kurang koordinasi antara EO dan Pemda menyangkut soal pendanaan Tour de Flores sempat menjadi topik hangat.

Pejabat dan Pengisi Acara

Meskipun cuaca sangat panas, namun tidak menyurutkan masyarakat dan anak-anak sekolah hadir mengisi acara. Bermodalkan persiapan beberapa hari saja, berbagai sekolah di Manggarai Barat berpartisipasi memeriahkan Tour de Flores.

Peristiwa miris terjadi ketika jam makan berlangsung. Sementara pejabat-pejabat makan bersama, banyak anak-anak masih mengisi acara. Mereka menampilkan sejumlah tarian.

Akan tetapi, ternyata kemudian ada yang tidak kebagian jatah makan. Padahal waktu sudah menghampiri pukul 15.00.

Salah seorang pendamping anak-anak tersebut pun protes. Ia marah dengan panitia yang tidak mengaturnya dengan baik. Ia bahkan memberikan pengumuman melalui pengeras suara, mempersoalkan hal itu.

Keamanan dan Anak-anak

Dalam acara akbar yang dihadiri pejabat seperti Tour de Flores, selalu saja ada orang yang bertugas menjaga ketertiban acara.

Di Labuan Bajo, anak-anak dipandang tidak tertib dan karenanya dijauhkan dari pusat acara.

Suasana demikian disaksikan di koridor depan kantor bupati. Di sana, para pejabat duduk. Di situlah juga pusat pementasan. Dan, anak-anak banyak berkerumun, ingin menyaksikan dari dekat.

Saat itulah, seorang yang mengenakan baju kemeja putih dan kain songke, selalu saja menyuruh anak-anak itu pergi. Berkali-kali, jika ada anak-anak yang mendekat, ia “mengusir” mereka lagi.

Aktivis dan Pejabat

Usai santap siang bersama, ada rapat terbatas yang difasilitasi oleh pihak PLN di ruangan kantor bupati Manggarai Barat. Rapat itu dihadiri perwakilan dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, beberapa aktivis, LSM, dan aparat pemerintahan lokal. Agendanya adalah mengatasi persoalan sampah di kota Labuan Bajo.

Salah seorang aktivis turut hadir dalam acara tersebut. Katanya, ia ingin memaparkan hasil penelitian soal sampah di Kota Labuan Bajo. Namun kesannya, rapat itu sangat terburu-buru dan hanya mendengarkan pemaparan pihak kementrian.

Ketika ia menyampaikan pendapatnya, perwakilan dari kementerian mengatakan dia tidak punya waktu untuk membicarakannya. Ia lantas marah dan dengan tegas pula mengatakan, “Saya tidak punya waktu untuk mendengarkan Anda!”

Serangkaian cerita peminggiran itu hanyalah gambaran kecil saja cerita peminggiran yang sudah dan sedang berlangsung di kota Labuan Bajo.

Seiring berkembang pesatnya industri pariwisata di Labuan Bajo dalam beberapa tahun terakhir, pencaplokan sumber daya publik seperti air, tanah, pesisir, pantai, dan pulau-pulau berlangsung masif. Masyarakat masih mengeluh soal ketersediaan air minum bersih, fasilitas kesehatan, infrastruktur jalan, dan pendidikan.

Sebagai leading sector, tidak ada tanda-tanda pariwisata akan menggerakan sektor lain seperti sektor pertanian, melainkan lebih “menghisap” dan mengekploitasi sektor lain demi kegagahan pariwisata. (Gregorius Afioma/ARL/Floresa)