Toko Kembang Borong (Foto: Ronald Tarsan)

Borong, Floresa.co – Pasca terkuaknya tagihan utang dari Toko Kembang di Borong pada Maret lalu, delapan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Manggarai Timur – Flores tidak lagi menjadi pelanggan di toko tersebut.

SKPD itu dilaporkan memiliki utang Rp 1,2 miliar di Toko Kembang, yang terletak di Kembur.

Pernyataan resmi dari sejumlah pejabat di Matim menyebutkan utang tersebut bukan utang pemerintah daerah, tetapi utang oknum di SKPD.

Dorce Mewol, pemilik Toko Kembang mengatakan delapan SKPD yang sebelumnya disebut memiliki utang tak lagi membeli keperluan Alat Tulis Kantor (ATK) di tokonya.

BACA JUGA: 

“Sekarang mereka takut untuk datang ke sini. Rugi nana.  Delapan SKPD yang kamu muat (dalam berita), mereka lari semua. Bagaimana caranya supaya mereka kembali berlangganan di sini”,ujarnya ketika berbincang dengan Floresa.co, Rabu 27 April 2016.

Ketika ditanya, apakah utang sudah dilunasi atau belum? Ia menegaskan, “Jangan sebut utang lagi.”

“Ada orang-orang tertentu dan mereka sudah datang dengan baik-baik ke sini serta sudah mengaku, itu utang pribadi, bukan utang SKPD,” tegasnya.

Dirinya menjelaskan, banyak orang meneleponnya pasca adanya pemberitaan terkait utang tersebut. “Saya pusing dan merasa tidak tenang terkait persoalan kemarin, ujarnya.

Dorce mengakui ia memang mengirimkan surat ke Bupati Matim Yosep Tote dan Sekda Matheus Ola Beda serta pimpinan DPRD.

BACA JUGA:

“Sesuai isi surat yang saya kirimkan ke sana, saya hanya minta bantuan kepada bapak Bupati Yosep Tote, Sekretaris Daerah Pemkab Matim dan kepada pimpinan DPRD Matim, untuk menghimbau kepada SKPD agar segera melunasi utang tersebut,” ujarnya.

Persoalan utang delapan SKPD ini kini sedang diselidiki oleh Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Manggarai.

Kepolisian sudah meminta keterangan sejumlah pihak, termasuk pemilik Toko Kembang. (Ronald Tarsan/Floresa)