BerandaARTIKEL UTAMADi Hari Bumi, Pemkab...

Di Hari Bumi, Pemkab Manggarai Dalami Pesan “Laudato Si”

Floresa.co – Sekitar 200 orang pejabat di Kabupaten Manggarai – Flores pada Jumat, 22 April mendalami pesan ensklik Paus Fransiskus, Laudato Si,  yang terbit beberapa bulan lalu.

Acara itu sekaligus menandai Hari Bumi Internasional yang diperingati setiap 22 April.

Pemateri dalam acara ini adalah Pastor Peter C Aman OFM, direktur JPIC-OFM.

Bupati Manggarai, Kamelus Deno mengatakan, melalui kegiatan itu, mereka ingin menjadikan Laudato Si sebagai salah satu referensi dalam penyususan program kerja selama lima tahun ke depan, terutama terkait pengelolaan lingkungan.

”Bagi pemerintah, Laudato Si sangat penting karena sesuai dengan visi Pemkab Manggarai terkait prinsip pembangunan yang adil dan merata. Adil tidak saja untuk kebijakan pembangunan, tetapi menghargai lingkungan sekitar merupakan bagian dari penerapan adil itu,” katanya.

Deno juga mengatakan, selama ini mereka memang sudah berupaya menyelamatkan lingkungan. “Tetapi jujur, masih dengan dasar pemikiran yang terbatas,” katanya.

Dengan memahami ensklik, ini, kata dia, mereka bisa mendapat wawasan yang lebih jauh dan mendalam.

Deno menjelaskan, persoalan lingkunga di wilayahnya antara lain termasuk tambang, krisis air dan perambahan hutan.

Ia menyatakan, total hutan di Manggarai sebanyak 23.000 hutan  konservasi dan hutan lindung, yang pasti sangat penting dijaga mengingat dari 337.000 jiwa, 190.000 orang bekerja di sektor pertanian.

Sementara itu, dalam paparannya, Pastor Peter mengatakan, pesan penting Laudato Si adalah lingkungan hidup merupakan rumah bersama.

“Kalau mau tempat tinggal bersama kita baik, berarti harus dijaga, dirawat, bukan saja untuk kepentingan sekarang tetapi untuk generasi berikut,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa Laudato Si memang sekedar himbauan moral dan tidak menjelaskan langkah-langkah praktis.

“Paus bukan orang yang mengeksekusi sebuah kebijakan. Tetapi itu ada pada pemerintah. Kami melihat pemerintah terbuka saat kita menyampaikan gagasan. Karena di tangan merekalah penentu keputusan dan kebijakan yang baik untuk masyarakat,” katanya.

“Gereja paling hanya menyampaikan dorongan dan suara kritis saja,” lanjutnya.

Ia mengatakan, “bumi ini sudah menyediakan semua kebutuhan. Tetapi akan tidak cukup bagi orang yang rakus dan tamak.”

“Karena itu, pemerintah sebagai pengambil kebijakan perlu menerapkan kebijakan-kebijakan yang mampu menopang bumi dari kerusakan, perlu ada pembaruan pola pikir agar tidak hanya memikirkan kehidupan masa sekarang, tetapi juga generasi mendatang. Itulah poin-poin yang ditegaskan Paus Fransiskus,” tegasnya. (Arr/ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Surat Domba untuk Gembala: Bapa Uskup, Akhiri Penderitaan Gereja dan Umat Keuskupan Ruteng

Floresa.co - Polemik di Keuskupan Ruteng yang memanas setelah pada pertengahan Juni...

Sudah Seharusnya Cara-cara Represif Ditinggalkan

Seharusnya polisi bisa bertindak lebih bermartabat dari sekadar mendaur ulang cara kekerasan. Pelaku wisata dan warga bukan musuh, apalagi mereka hanya ingin menuntut haknya. Menabur benih kekerasan hanya akan menuai konflik berkepanjangan.