Compang yang dibangun para aktivis di Pantai Pede, Labuan Bajo, 10 April 2016 sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan pemerintah menyerahkan lahan itu untuk pembangunan hotel oleh investor. (Foto: Facebook Stefan Rafael)

Oleh: PETER DABU

Beberapa hari belakangan ini, kata compang menjadi salah satu trending topic pembicaraan di antara orang-orang Manggarai, khususnya di media sosial Facebook.

Ini tidak terlepas dari aksi sejumlah aktivis di Labuan Bajo, Manggarai Barat yang membangun compang di Pantai Pede beberapa waktu lalu.

Hal itu menyulut kontroversi. Bagi sejumlah orang, pembangunan compang itu dianggap tidak pada tempatnya.

Umumnya, dalam budaya Manggarai, compang memang adanya di tengah kampung. Ia merupakan satu kesatuan antara mbaru bate kaeng (rumah tempat tinggal), natas bate labar (halaman tempat bermain), uma bate duat (ladang tempat cari nafkah) dan wae bate teku (tempat timba air).

Dari lima unsur ini, compang merupakan tempat menyembah “Mori Agu Ngaran” (Tuhan Sang Pemilik), maka disebut compang bate takung (mesbah untuk persembahan).

Lalu, apakah yang dibangun para aktivis di Pede itu layak disebut compang? Inilah yang menjadi perdebatan di media sosial.

Membaca berbagai komentar netizen soal compang ini, saya teringat sebuah tempat di kampung saya di Gurung, Desa Gololanak, Kecamatan Cibal.

Di sana, ada dua compang di tengah kampung milik dua suku atau wa’u. Satu compang milik Wa’u Rotong dan satu lagi milik Wa’u Kolong. Yang terakhir ini suku atau klan saya.

Dua compang ini memenuhi unsur sebagai compang dalam artian umum di Manggarai atau merupakan bagian tak terpisahkan dari lima unsur yang disebutkan tadi.

Tetapi, di sebelah barat kampung kami, tepatnya di sebuah tempat yang namanya “Liang Tongkeng” ada juga sebuah compang. Ukurannya memang kecil, hanya beberapa onggokan batu.

Kondisinya juga tidak terawat sebagaimana dua compang di tengah kampung Gurung tadi.

Meski demikian,warga Gurung dan terutama orang tua selalu menceritakan bahwa di Liang Tongkeng ada sebuah compang.

Beberapa waktu lalu, ketika bapa saya ke Jakarta, saya bertanya-tanya soal sejarah compang di Liang Tongkeng itu.

Menurut bapa saya, compang itu dulu dibangun prajurit Cibal ketika masa perseteruan antar Cibal dan adak Todo. Di lihat dari letaknya, Liang Tongkeng memang ada di sisi barat kampung atau dekat Wae Racang, perbatasan dengan wilayah Ndoso, Mabar.

Konon, wilayah barat kampung kami ini dulu menjadi salah satu daerah perlintasan prajut Cibal ketika berperang dengan Todo.

Sekarang saya bertanya-tanya, mengapa dulu para prajurit perang itu membangun compang? Bukankan compang umumnya di tengah kampung?

Menyimak berbagai perbicangan di Facebook, saya mencoba berkesimpulan, barangkali compang yang dibangun di Liang Tongkeng itu dulu sebuah simbol persatuan dengan yang Ilahi dalam perjuangan mereka melawan pihak musuh.

Keberadaan compang di Liang Tongkeng ini juga membuat saya berkesimpulan compang tidak semata-mata ada di tengah kampung. Ada juga yang ada di luar kampung yang dibangun dengan tujuan khusus, seperti yang dilakukan prajurit Cibal tadi.

Karena itu, ketika seorang pengguna Facebook, Cypiran Guntur mengulas secara singkat soal compang di salah satu grup Facebook “Demokrasi Mabar” saya pun turut nimbrung.

Saya cuma menanggapi bagian pertanyaan soal keberadaan compang di luar kampung itu.

Di bagian komentar saya menyatakan ketidaksepakatan saya pada anggapan sejumlah pihak yang menyatakan bahwa compang hanya ada di tengah kampung.

Karena, fakta yang saya lihat, compang juga ada di luar kampung. Barangkali makna dan tujuannya yang sedikit berbeda,tetapi secara mendasar tetap sama yaitu ungkapan kerendahan hati di hadapan Yang Ilahi, yang transenden, bernama “Mori Agu Ngaran” atau dalam bahasa agama samawi “Tuhan”.

Tetapi itu di Cibal, lebih khusunya lagi di kampung saya. Di tempat lain di Manggarai mungkin ceritanya lain. Karena secara tradisional, kampung atau beo di Manggarai itu otonom dalam arti punya sistem tata pemerintahan dan adat istiadat sendiri.

Meskipun antar satu beo dengan beo lainnya ada kemiripan, tetapi tetap juga ada kekhasan.

Demikian juga compang di Liang Tongkeng tadi, mungkin adanya cuma di Cibal, tidak di tempat lain di Manggarai.

Penulis adalah seorang jurnalis, tinggal di Jakarta