BerandaPERISTIWAPater Hubert Muda SVD...

Pater Hubert Muda SVD Tegaskan Pentingnya Pendidikan Karakter

Ruteng, Floresa.co – Pendidikan karakter sangatlah penting dalam memajukan pendidikan di Indonesia, terutama untuk menangkal dampak negatif yang menyebabkan lahirnya lubang-lubang hitam kebudayaan, demikian kata Pater Hubert Muda SVD, seorang dosen dalam sebuah seminar di Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Pater Hubert juga mengaitkan pendidikan karakter dengan semboyan revolusi mental Presiden Joko Widodo.

“Berkaitan dengan pendidikan, revolusi mental harus dibaca secara tekstual dan dihayati secara kontekstual,” tegasnya.

“Untuk konteks sekarang, revolusi mental berhadapan dengan lubang-lubang hitam kebudayaan, merumuskan pendidikan sebagai proses pembudayaan kembali manusia Indonesia,” lanjut Pastor Huber.

Imam Serikat Sabda Allah (SVD) itu menegaskan hal ini saat menjadi pembicara tunggal dalam seminar di Sekolah Tinggi Pastoral (Stipas) St Sirilus, Ruteng pada Sabtu, 16 April 2016.

Seminar dengan tema “Pendidikan Karakter versus Lubang-Lubang Hitam Kebudayaan” itu dihadiri para alumni, mahasiswa serta para dosen Stipas, antara lain Romo Hironimus Bandur Pr, Romo Emanuel Haru Pr, Romo Vinsensius Nase Pr, Romo Yulius R. Effendi Pr dan Romo Inosentius Mansur Pr.

Seminar itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pesta pelindung, paskah bersama dan temu alumni Stipas, yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut, dari Kamis hingga Sabtu, 14-16 April.  Acara itu juga ditandai dengan pembentukan badan pengurus alumni dengan nama Persaudaraan Alumni Stipas (Pelita).

Ketua Stipas, Romo Alfons menegaskan, pendidikan karakter sebenarnya telah ada dalam visi dan misi kampus itu, yaitu beriman, bermoral, berpengetahuan dan berketerampilan.

“Karena itu, kita diharapkan agar menjabarkanya secara baik dan benar,” katanya.

“Kita mesti selalu merujuk pada visi dan misi kampus Stipas karena di situ sesungguhnya pendidikan karakter ditekankan. Agar mencapai itu semua, maka dibutuhkan kerja keras,” lanjut Romo Alfons, yang juga Vikaris Jenderal Keuskupan Ruteng.

Sementara itu Romo Ino Mansur, salah satu dosen mengatakan kiranya tepat untuk berbicara tentang pendidikan karakter dalam kaitannya dengan lubang-lubang hitam kebudayaan.

“Alasannya, ruang sosial kita telah diporak-porandakan oleh berbagai bentuk distorsi. Pendidikan diharapkan menjadi sarana yang mengembalikan harkat dan martabat ruang sosial itu. Maka mutlak diperlukan pendidikan yang berkarakter,” katanya. (Arr/ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Walhi NTT Ingatkan Pemerintah Berhenti Khianati Mandat Cagar Biosfer TN Komodo

“TN Komodo yang telah berjalan 42 tahun gagal untuk menjalankan tiga mandat utama cagar biosfer yakni pelestarian keanekaragaman hayati/satwa, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan mekanisme ekonomi ramah lingkungan dan berkeadilan dan pemuliaan kebudayaan rakyat,” kata Walhi NTT

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Potret Sejarah Manggarai dalam Sejarah Nusantara: Sebuah Studi Literatur

Catatan editor: Tulisan ini merupakan karya dari Vianney Andro Prasetyo, seorang...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.