Stanislaus Gambut (36) korban pemukulan oknum PNS saat di Polres Manggarai. (Foto: Ardy Abba/Floresa)

Ruteng, Floresa.co- Konstan Son, oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di kantor kecamatan Satarmese Utara, kabupaten Manggarai-Flores, NTT  dilaporkan ke Polres Manggarai di Ruteng,Sabtu 16 April 2016.

Konstan  diduga terlibat dalam aksi  pemukulan terhadap Stanislaus Gambut (36), seorang warga kampung Wotol, Desa Nao pada Sabtu 16 April 2016.

Konstan diduga melakukan pemukulan itu bersama-sama dengan dua rekannya Sebastianus Ardi dan Pius Arkelisdari. Ketiganya sama-sama berasal kampung Tengger, desa Nao.

Penganiayaan itu dilaporkan terjadi saat Stanislaus sedang melakukan rapat bersama sejumlah aparat desa di kantor desa Nao.

Ditemui Floresa.co di Polres Manggarai Sabtu sore, Stanislaus mengaku, ia dipukul babak belur hingga sempat tak sadarkan diri. Kejadinyanya kata dia terjadi sekitar pukul pukul 09.30 Wita di depan kantor desa.

“Sekitar 30 menit kami sidang, tiba-tiba Sebas datang lewat pintu dan meminta izin dengan Kades untuk bertemu saya. Karena izinnya baik dan tidak ada dalam bayangan saya ada masalah sebelumnya, saya pun keluar menemui mereka,” ujar Stanislaus yang menjabat sebagai Kepala Dusun Wotol, Desa Nao.

Sesaat sesampai di depan kantor desa, kata dia, ia sempat disambar dengan pertanyaan oleh Sebas terkait pemotongan pagar di salah satu lokasi di desa itu sebelumnya. “Adik kamu yang potong saya punya pagar kah?”ujar Stanislaus menirukan pertanyaan Sebas.

“Saya bilang, kalau soal pagar itu saya tidak tau. Saya hanya ikut saja, orangtua kami yang suruh. Lebih baik tanya dengan orang yang tau saja,” lanjut Stanislaus.

Usai menjawab itu, lantas tangan Sebas lalu menghantam Stanislaus tepat di bagian hidung hingga luka dan berdarah. Setelah itu, pukulan kedua dilambungkan oleh Pius di bagian rahang, hingga Stanislaus jatuh terkapar di tanah. Kemudian selanjutnya dipukul oleh Konstan yang adalah seorang PNS di kantor camat Satarmese Utara itu.

Setelah sempat dirawat oleh dokter di Puskesmas Langke Majok usai kejadian, Stanislaus bersama sejumlah warga dan kepala desa Nao langsung mendatangi Polres Manggarai untuk melaporkan tindakan penganiayaan tersebut.

Herman Lencung, Kepala Desa Nao mengaku, kejadian pemukulan salah satu stafnya itu oleh ketiga oknum tersebut di luar dugaan dia. Sebab, ia merasa rapat yang menghadirkan seluruh pengurus desa Nao untuk membahas Raskin tersebut dalam keadaan aman dan kondusif sejak 30 menit awal dari pukul 09.00 Wita.

Apalagi, kata Kades Herman, saat Sebas meminta izin dengannya saat rapat berlangsung untuk bertemu Stanislaus dilakukan dengan baik dan santun.

“Begitu Sebas berdiri di pintu meminta izin dengan saya dengan baik untuk bertemu Stanis, saya langsung izinkan. Begitu saya lihat ternyata di luar kantor desa ada Pius Arkelis dan Konstan Son. Begitu sampai di luar mereka tiba-tiba pukul Stanis sampai pingsan,”ujar Herman.

Dihubungi terpisah melalui ponselnya, Camat Satarmese Utara Aloisius Jebarut membenarkan Konstan bekerja di kantor camat tersebut sebagai PNS.

Namun Aloisius mengaku, belum bisa berkomentar banyak terkait keterlibatan salah satu stafnya dalam kasus penganiayaan itu.

“Saat kejadian itu tadi saya sedang lakukan kegiatan serah terima program Pamsimas di desa Mata Wae dengan petugas dari PU, kordinator Pamsimas, fasilitator serta seluruh warga masyarakat desa Mata Wae. Sehingga saya belum bisa memberikan komentar lebih banyak,” katanya.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan otoritas Polres Manggarai belum bisa dimintai komentar terkait kasus pemukulan yang menimpa Stanislaus sebab korban masih dalam pemeriksaan. Ketiga pelaku pun belum berhasil dikonfirmasi. (Ardy Abba/Floresa).