Aktivis KNPB di Yahukimo saat sedang membagi selebaran. (Foto: Tabloidjubi.com)

Floresa.co – Polisi di Papua menangkap lima aktivis anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB) saat membagikan selebaran berisi ajakan kepada warga untuk mengikuti aksi unjuk rasa pada Rabu esok, 13 April 2016.

Kelima aktivis itu merupakan anggota KNPB di wilayah Yahukimo. Polisi menangkap mereka setelah membagi selebaran yang mengajak demo esok, terkait dukungan agar United Liberation Movement for West Papua (ULWMP) dapat diterima sebagai anggota penuh di forum diplomatik di Pasifik Selatan, yakni Melanisian Spearhead Group (MSG).

Erius Pahabol, ketua KNPB wilayah Yahukimo mengatakan kepada Tabloidjubi.com, dalam peristiwa itu, dua orang anak dibawah umur turut ditangkap, namun dilepas sebelum dibawa ke kantor Polres Yahukimo.

“Yosua Sobolim (8 tahun) dan Anderson Suhun (12 tahun) dilepas setelah dikasih naik ke dalam mobil Dalmas karena anggota KNPB bilang, mereka itu adik-adik yang tidak terlibat,” ungkapnya.

Kata dia, lima aktivis itu kini berada di Polres, di mana mereka disuruh push up dan dijemur di panas matahari.

“Kami sulit masuk karena pengawalan ketat dari Brimob. Kami sedang kumpul-kumpul untuk masuk ke Polres meminta keterangan. Tidak ada tindakan anarkis, kok ditangkap?” ungkapnya.

Kata dia, dalam penangkapan itu, polisi menyita sejumlah barang, yakni satu bendera KNPB, 7 sepeda motor dan uang tiga juta rupiah.

“Waktu bagi selebaran, masyarakat kasih uang dengan sukarela. Sudah kami hitung. Tiga juta yang ada dalam karton, Brimob bawa,” katanya.

Sementara itu, juru bicara Polda Papua, AKBP Patrige Renwarin yang dihubungi Tabloidjubi.com mengatakan tidak mengetahui informasi penangkapan itu, karena dirinya sedang ikut rombongan Gubernur Papua menghadiri pelantikan Bupati Boven Digoel.

“Saya di Boven Digoel. Saya tidak monitor. Kamu coba cari informasi ke Polda,” ungkapnya.

Sebelumnya, penangkapan aktivis KNPB terjadi pada 5 April lalu saat mereka menggelar demo di Timika. Hingga kini, dua orang masih ditahan, sementara 13 lainnya sudah dibebaskan.

Aksi unjuk rasa pada Rabu esok, rencananya digelar di tujuh kota di Papua. (Arrio/ARL/Floresa)