Oleh: WILFRID BABUN SVD

“Kita mulai dengan kerja keras. Sudah saatnya kita bekerja membangun Manggarai Barat”. (Pos Kupang, 23 Maret 2016, hlm. 12). Pernyataan Maria Geong, wakil bupati perempuan satu-satunya di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menarik untuk dicermati.

Kerja keras

Buku Manggarai Barat, Keringat, Air Mata dan Penjara untuk Sebuah Kabupaten, dengan sangat telak melukiskan apa arti kerja keras. Keringat dan air mata sering merupakan simbol suatu perjuangan berat.

Manggarai Barat (Mabar) itu bukanlah sekedar lokasi geografis. Tetapi lebih itu.  Mabar merupakan presentasi satu eksistensi. Ada perjuangan untuk “ada”. Demi eksistensi, manusia Mabar mempertaruhkan segala-galanya. Di memori kolektif masyarakat Mabar, perjuangan panjang dan penuh dinamika, pasti tetaplah tercatat rapih di banyak nubari.

Dan, sekali lagi kita katakana, perjuangan itu adalah kerja. Setiap pejuang adalah pekerja keras. Kulminasi dari kerja ulet bersama itu, lahirlah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat. Itulah satu kepastian hukum.  Maknanya adalah, kerja keras pantang mundur selalu ada hikmah.

Buku yang diedit John A. Syukur ini perlu diapresiasi. Menyaksikan Mabar kini, kita senantiasa diingatkan untuk mengenang cucuran keringat dan derai air mata para pioner. Soekarno sang Proklamator bilang: Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah)! Mabar lahir dari kerja keras. Itu  fakta sejarah!

Culture-set

Mestinya kerja keras itu jugalah yang menjadi spirit yang menggerakkan seluruh elemen di kabupaten ujung barat Flores ini. Masyarakat dan pemerintahnya harus sepakat dan memastikan membudayakan etos kerja keras.

Dengan mengatakan “kita mulai dengan kerja keras”, orang nomor dua di Mabar ini seakan juga menghardik: “Hei,  kamu yang suka bermalas-malas, minggir. Tempatmu tidak di sini!”.

Pernyataan ini, pasti tidak sedang mengoreksi dan tidak sementara mengevaluasi kinerja kepemimpinan sebelumnya. Bupati Agustinus Ch Dula juga mengatakan: “… meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Mabar untuk serius menjalankan tugas dan tidak banyak omong. Juga kepada para pimpinan SKPD supaya bekerja sungguh-sungguh dan konsisten dalam melaksanakan tugas. Kerja demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Mabar kini dan kelak.” (Flores Pos, 1 April 2016, hlm. 17).

Dengan begitu, mentalitas Asal Bapa Senang (ABS) sudah harus ditinggalkan. Kinerja dan kualitas pelayanan publik seyogyanya menjadi mind set dan culture-set para aparat birokrasi.

Memang elok, kalau duet kepemimpinan Gusti- Maria dipadati oleh profil para birokat pekerja keras dan ulet. Kabinet kerja yang mengusung kerja keras untuk rakyat: Pro bono communae.

Komitmen pemerintah lokal Mabar ini juga merupakan tujuan dari reformasi birokrasi: menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional, berintegritas dan berkinerja tinggi (Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2125. hlm.16).

Pasti Maria Geong sadar posisi penting dan sentral yang diembannya. Semua masyarakat Mabar menaruh harapan luar biasa pada duet kepemimpinan Gusti- Maria, lima tahun ke depan.

Setumpuk kekuasaan ada di tangan, ya! Ada kewenangan, juga ada diskresi. Setiap pemimpin yang terpilih pasti juga sangat paham awasan Lord Acton: kekuasaan yang absolut itu cendrung merusak.

Surplus pengalaman selama kepemimpinan yang lalu, pasti memberikan nutrisi memantapkan langkah Bupati Dula. Abuse of power janganlah menjadi cerita sipi sopok di mana-mana.

Kepiawaian akademik Maria Geong  dengan “credo kerja keras”, bisa menjadi faktor kunci. Membangun Mabar itu harus merupakan satu “pekerjaan” yang jelas, terarah dan sanggup menggembirakan banyak orang. Awal yang baik, akhir yang baik? Wait and see!

Penulis adalah imam Serikat Sabda Allah (SVD), tinggal di Ruteng