Ilustrasi

Floresa.co –  Polemik pemberhentian tenaga kontrak di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) berbuntut panjang.

Media Indonesia melaporkan pada Jumat, 8 April 2018, rumah John Lewar, wartawan Metro TV yang isterinya ikut diberhentikan oleh Bupati Agustinus Ch Dua, dijaga ketat aparat kepolisian dan TNI pada Kamis malam.

Hal itu terjadi “menyusul ancaman yang dilakukan Kasubag Pemda Menggarai Barat, NTT, Paul Jeramu,” demikian menurut media tersebut.

“Ancaman itu muncul setelah John Lewar mengajak duel di media sosial. Ajakan duel itu dipahami Paul Jeramu sebagai adu fisik padahal yang dimaksudkan John Lewar ialah adu argumentasi,” tulis Media Indonesia.

Dalam wawancara dengan Floresa.co sebelumnya, isteri John, Emestina Mamur memang mensinyalir kerlibatan Paul Jeramun dalam proses pemberhentiannya.

“Beberapa Minggu lalu, sebelum tanggal SK diterbitkan 28 Maret, ada satu rekan di Satpol PP meminta nama lengkap. Kata dia, atas permintaan Paulus Jeramun,” ungkap Emestina.

Emestina mengatakan, ketika akhirnya menerima SK pemberhentian, maka terjawab sudah tujuan permintaan nama lengkapnya beberapa waktu lalu itu. “Saya langsung menebak, ternyata inilah maksud nama diminta,” katanya.

Menurut dia, rekannya di Satpol PP yang meminta nama lengkapnya adalah Stanislaus Guntur. Saat itu, kata Emestina, ia tidak memikirkan apa tujuan Stanislaus. “Pas saya ambil surat pemberhentian, saya memberi penghormatan kepada Stanislaus Guntur,” katanya.

Ia menjelaskan, kepada Stanislaus, ia menyatakan terima kasih. “Sekarang, baru saya tahu tujuan pertanyaan nama itu,” jelasnya. “Tadi, dia minta maaf ke saya. Namun, saya tidak menjawab,” kisah Emestina.

Terpisah, Stanislaus Guntur tidak mengelak pernah meminta nama lengkap Emestina. “Saya hanya dimintai bantuan. Demi Tuhan, tidak punya kepentingan apa-apa,” jelas dia.

Dirinya mengaku terpukul mendengar kabar Emestina sudah diberhentikan. “Dia itu saudari saya, tetapi nama lengkapnya saya tidak hafal. Permintaan nama itu atas perintah Paulus Jeramun,” terangnya.

Guntur bahkan bersumpah, akan mendapat musibah jika ia terlibat memberhentikan rekannya itu.

“Tidak ada tujuan sama sekali. Saya sendiri rasa beban dengan peristiwa yang menimpanya. Jujur, kita sangat terpukul, bahkan saya akan ditabrak mobil jika saya terlibat,” ungkapnya.

Kata dia, Paulus Jeramun mendatanginya beberapa Minggu lalu usai apel pagi, kebetulan dirinya sedang piket saat itu. “Iya betul, saya diminta Paulus Jeramun. Selaku piket saya ikut perintah, kebetulan nama lengkap (Emestina) saya tidak hafal.”

“Saya tidak menanyakan apa tujuan permintaan (nama itu). Hanya ikut perintah saja. Saya sangat sedih,” katanya.

Sementara itu, Paulus Jeramun, yang dihubungi Rabu malam melalui ponselnya membantah pernah menyuruh orang menanyakan nama Emestina.

“Saya tidak pernah tanya orang. Siapa, siapa?” tanya Jeramun.

“Itu urusan mereka. Saya tidak tahu. Saya tidak pernah tanya nama orang,” katanya, ketika disinggung soal permintaannya kepada Stanislaus Guntur untuk menanyakan nama Emestina. (Ari D/Arr/Nan/ARL/Floresa)