Sekda Manggarai Timur, Matheus Ola Beda

Borong, Floresa.co – Kekeringan yang melanda daerah kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur (Matim)- Flores, NTT beberapa pekan belakangan ini mengakibatkan kurang lebih puluhan hektar lahan padi warga terancam gagal panen.

Tak turunnya hujan khususnya di Sambi Rampas bagian utara tersebut membuat para petani mengeluh, sebab padi yang di tanam di lahan kering mereka sebelumya tidak sempat berbunga.

Sebagian petani dari Desa Nanga Baras- Sambi Rampas bagian utara mengaku musim tanam kali ini mereka dipastikan gagal panen akibat kekeringan yang melanda beberapa pekan terakhir.

Mateus Ola Beda, Sekretaris daerah (Sekda) Matim mengaku, pihaknya sudah melihat langsung kondisi kekeringan tersebut melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

“Ada sebagian daerah Nanga Baras itu sekarang mengalami kekeringan. Ada sebagian memang yang gagal tanam dari awal. Itu terutama padi dan Jagung,” kata Mateus kepada Floresa.co via ponselnya, Jumat, 8 April 2016.

Ia mengatakan, melihat kondisi kekeringan di wilayah tersebut pihaknya melalui Dinas Sosial sudah berkordinasi dengan lurah setempat.

Mateus menegaskan, indikasi gagal panen akibat kekeringan di Nanga Baras tersebut tidak semua terjadi di lahan para petani, melainkan hanya sebagian saja.

“Supaya nanti kita akan bantu sesuai dengan cadangan pangan di kabupaten Manggarai Timur, dalam hal ini cadangan beras pemerintah,” ujar Mateus.

Bantuan tersebut nantinya, kata dia, dipastikan oleh pemerintah daerah agar tepat sasaran kepada warga yang benar-benar terkena bencana.

“Akan tetapi tidak seluruhnya, tetapi sebagian. Kita tetap siap membantu, hanya kita masih pendataan supaya bantuan tepat sasaran,” kata Mateus.

Sementara itu, Inosensius Fredi Mui, anggota DPRD NTT mengharapkan agar Pemkab Matim segera berkordinasi dengan pemerintah provinsi untuk segera membantu di daerah yang mengalami kekeringan.

“Ikut prihatin dengan kondisi ini. Harapannya Pemda (Matim) berkoordinasi dengan Pemprov (NTT) untuk bisa membantu masyarakat di daerah yang mengalami musibah kekeringan,” kata Inosensius.

Dilaporkan sebelumnya, – akibat musim kemarau berkepanjangan, lebih dari puluhan lahan padi warga di Desa Nanga Baras dan sekitarnya di Kecamatan Sambi Rampas terancam gagal panen.

Padi yang pada umumnya di tanam di lahan kering di wilayah ini gagal berbunga lantaran hujan tak kunjung turun. Sebagian batang daun dan batang padi mulai kering akibat panasnya sinar matahari.

Para petani mengaku anomali pada musim tanam kali ini merupakan yang terburuk ketimbang sebelumnya. Hal tersebut disebabkan curah hujan tak menentu di luar target petani.

Menurut warga setempat, biasanya bulan Maret pada musim tanam sebelumnya hujan masih mengguyur sehingga padi yang ditanam di lahan kering tersebut ditargetkan dapat membuahi hasil.

BACA JUGA: Lahan Padi di Sambi Rampas Terancam Gagal Panen, Warga Sedih

“Ini yang terburuk. Semua padi di lahan kami kering akibat hujan tak kunjung datang. Ini di luar dari biasanya. Kami gagal panen pak,” ujar Markus Abu, salah seorang petani asal Sambi Mese, Desa Nanga Baras, Selasa, 29 Maret lalu.

Markus mengaku, diperkirakan hampir semua lahan padi warga di desa tersebut terancam gagal panen. “Kami sangat sedih dengan kondisi ini. Padahal kami sudah mengeluarkan biaya yang cukup banyak untuk mengolah lahan kering ini agar bisa ditanami padi. Kali ini kami di sini diperkirakan mengalami bencana kelaparan hebat,” katanya.

Salah seorang petani desa Nanga Baras saat memantau di lahan padi miliknya yang sudah kering (Foto: Ardy Abba/Floresa)
Salah seorang petani desa Nanga Baras saat memantau di lahan padi miliknya yang sudah kering (Foto: Ardy Abba/Floresa)

Terpisah, Abraham Sapa, Kepala Desa Nanga Baras mengaku, tak hanya padi yang terancam gagal panen tetapi berbagai tanaman pertanian lain pun ikut kering lantaran kemarau panjang selama beberapa bulan terakhir ini.

“Secara otomatis, tanaman di lahan kering seperti jagung Solor, sayur mayur juga ikut gagal panen,”kata Abraham.

Melihat kondisi tersebut, ia sangat mengharapkan pemerintah lebih tinggi terutama Pemkab Matim untuk menyaksikan langsung segala kerugian warga akibat kekeringan. (Ardy Abba/Floresa)