Proses pembukaan areal sawah baru di Lembor dijaga oleh aparat TNI. (Foto: Floresa)

Lembor, Floresa.co – Para petani di Raminara, Desa Siru, Kecamatan Lembor, mengaku kecewa dengan upaya pemerintah dalam mencetak sawah baru.

Akibat program pemerintah pusat tersebut yakni menambah lahan persawahan sebesar 32 ribu hektar pada 2016 ini, petani di Lembor ikut merasakan getahnya.

Kepada Floresa.co pada Minggu, 3 April 2016, Aven Turu, seorang warga melaporkan upaya penggusuran di Raminara yang dilakukan sejak Sabtu, 2 April lalu. Menurutnya, luas lahan yang siap dicetak menjadi persawahan sekitar 50 hektar.

Selama ini, di lokasi yang siap digusur itu, ia sudah menanam sorgum dan kacang hijau dalam area sekitar satu hektar dan hanya tinggal menunggu waktu untuk dipanen. Kini, seluruh tanaman itu ternyata siap-siap digusur.

“Saya benar-benar kecewa. Saya punya tanaman yang siap dipanen, digusur begitu saja” katanya.

Untuk tanaman miliknya, lanjutnya, direncanakan akan digusur Senin, 4 April.

Tidak hanya Aven Suru, petani lain Mikael Hamsu sungguh merasa geram dengan penggusuran tanaman miliknya. Di kebun seluas setengah hektar miliknya, ia sudah menanam kacang hijau dan jagung. “Saya tidak pernah tahu, akan digusur begini” jelasnya.

Katanya lagi, seandainya tahu lebih awal, ia tidak mungkin bersusah payah untuk menanam.

Sementara itu, Wilhelmina Timang tak bisa menahan tangis saat jagung dan kacang panjang miliknya digusur kemarin. Rasanya ingin memberontak, namun ia enggan melakukannya lantaran penggusuran itu dilakukan dengan tentara.

“Sedih betul lihat tanaman saya digusur begitu saja. Saya sakit hati,” katanya.

Petani Penggarap

Aven Turu sendiri sudah tiga tahun bercocok tanam di lokasi yang digusur tersebut. Menurutnya, pada tahun 1990-an, di lokasi tersebut pernah dibuka area persawahan. Kemudian, ditutup kembali lantaran kekurangan pasokan air.

Pada tahun 2012, ia berminat bercocok tanam di lokasi tersebut. Daripada terlantar dan tidak dimanfaatkan, ia membuka ladang di sana. Atas persetujuan pemilik tanah, akhirnya ia mengelolahnya dengan sistem ambil hasil.

Sementara itu, dua petani lain yang tak lain adalah juga petani penggarap, baru tahun ini mulai bercocok tanam di sana. “Sebenarnya bukan hanya kami. Banyak petani lain yang tanamannya akan digusur, hanya tidak tahu mau protes,” jelas Aven.

Ia menambahkan, sebelum penggusuran tersebut tidak dilakukan sosialisasi dengan pemilik tanaman. Hanya diberitahukan kepada pemilik lahan. “Hak-hak pemilik tanaman benar-benar tidak dihargai,” katanya.

Selanjutnya ia menilai, pembukaan lokasi persawahan itu belum tentu membawa hasil yang signifikan. Persoalannya adalah air. Untuk lokasi yang sekarang saja, air untuk persawahan Lembor sulit, apalagi kalau ditambahkan areal persawahan yang baru.

Terkait percetakan sawah baru, Dinas Pertanian sudah mensinyalirkan rencana tersebut dalam pertemuan Sosialisasi Proyek Irigasi pada Sabtu, 19 Maret 2016 di Kantor Camat Lembor.

Saat itu Fatinci Reynilde, perwakilan dari dinas mengatakan, pemerintah pusat menginginkan produktivitas pertanian sebagai bagian dari program Nawacita. Untuk tujuan tersebut, dilaksanakan program cetak lahan persawahan baru.

“Untuk tahun 2016 ini, untuk Manggarai Barat, kita coba dulu dengan 100 hektar,” katanya.

Dihubungi secara terpisah, Camat Lembor, Paulus Malu membenarkan adanya penggusuran tersebut.

Menurutnya, itu masih ada kaitannya dengan program dari pemerintah pusat yang berada di bawah dinas pertanian. (Gregorius Afioma/ARJ/Floresa).