Seorang Kru Aletheia Ledalero beraksi saat pementasan Teater Kotbah, mahakarya Oan Wutun dan Gucekh Horowura, svd. Foto: Aletheia Doc.

Maumere, Floresa.co – Mengantar para penikmat sastra masuk dalam suasana paska, kelompok teater Aletheia Ledalero mementaskan teater berjudul “Kotbah” pada Selasa malam 22 Maret 2016.

Hadir dalam pementasan ini, semua anggota komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, biarawan/ti, penikmat sastra se-kota Maumere dan undangan lainnya. Pementasan teater “Kotbah” bertempat di aula Santo Thomas Aquinas Ledalero-Maumere.

Oan Wutun dalam sambutannya mengawali pementasan ini mengatakan “Kotbah” merupakan mahakaryanya bersama Fr. Gusty Horowura, SVD.

“Kotbah” lahir dan diinspirasi oleh puisi sang maestro WS Rendra yang berjudul “Kotbah.” Dengan merefleksikan puisinya secara mendalam, saya terinspirasi untuk mengembangkannya menjadi sebuah teater”, lanjutnya.

Kotbah yang dikemas dalam bentuk sebuah perayaan ekaristi menggunakan teks Injil Lukas 10:25-37 tentang Orang Samaria Yang Murah Hati ini mengkolaborasikan antara seni berakting, monolog dan diiringi koor yang meriah.

Ketua Aletheia Ledalero, Fr. Mario Nuwa, SVD setelah pementasan teater mengatakan Kotbah ini dipersiapkan dengan matang oleh kru Aletheia. Kotbah sendiri diawaki oleh sutradaranya sendiri Oan Wutun dan Fr. Gucekh, SVD dan dilakonkan lebih dari 30-an personil Aletheia, lanjutnya.

Kotbah sendiri merupakan sebuah kritikan pedas akan fenomena dunia dewasa ini di mana ada begitu begitu banyak ketimpangan sosial yang terjadi seperti kemiskinan, peperangan, diskriminasi terhadap ODHA, namun manusia  lebih memilih untuk menutup mata atas berbagai persoalan tersebut. Kita seolah merasa nyaman dengan situasi kita dan menutup mata terhadap penderitaan sesama kita yang mengalami musibah.