PMI Mangarai Timur menanam pohon di hulu Wae Cocor, Lambaleda, Sabtu 12 Maret 2016

Lambaleda, Floresa.co – Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Manggarai Timur (Matim) – Flores,Nusa Tenggara Timur (NTT) menanam pohon di kampung Golo Gega,Desa Meni Utara,Kecamatan Lambaleda, Sabtu 12 Maret 2016. Mereka juga melakukan pemeriksaan darah terhadap warga setempat.

Kampung Golo Gega sengaja dipilih oleh PMI Cabang Matim karena pada tahun 2007 lalu di kampung ini mengalami bencana alam tanah longsor yang menewaskan 19 orang warga setempat.

Kegiatan menanam pohon ini melibatkan warga kampung Golo Gega dan tenaga media Puskesmas Benteng Jawa,Lambaleda.

Ketua PMI Cabang Matim, Theresia Wisang Agas usai tanam pohon mengatakan ada 570 pohon yang ditanam dalam kegiatan ini. Jenis pohon yang ditanam adalah ara, jati putih,mahoni dan ratung.

Lokasi penanaman pohon diadakan di sekitar Wae Cacor. Ini merupakan sumber air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air untuk wilayah Desa Goreng Meni.

“Debit air Wae Cocor sudah menurun,sehingga PLTA di musim kemarau tidak berfungsi. Sedangkan untuk kegiatan periksa darah dilaksanakan di SDI Wae Luju,” kata Wisang Agas.

Menurutnya,sangat penting di hulu air ditanami pohon, agar volume air di kali tersebut stabil. Apalagi kali Wae Cocor dimanfaatkan untuk PLTA.

“Dengan melakukan kegiatan penghijauan, musibah tahun 2007 tidak terulang kembali. Dengan kegiatan ini,warga desa Meni Utara dan Warga Desa Goreng Meni dapat memahami bahwa pentingnya pohon untuk sumber air,”tambah istri Wakil Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas ini.

Ia mengajak Siswa dan siswi SDI Wae Luju dan SMPN 9 Lambaleda, serta masyarakat Meni Utara dan Masyarakat Goreng Meni merawat pohon yang baru saja ditanam.

“Saya akan kembali cek tahun depan. Apakah pohonnya masih hidup atau mati. Kita harus bersyukur, kita tanam di musim hujan. Ada tanda-tanda mau hidup karena selesai tanam langsung hujan turun,”katanya.

Guru SDI Wae Luju, Seli Gomen usai kegiatan tanam pohon mengapresiasi relawan PMI Cabang Matim yang memilih kampungnya untuk kegiatan penghijauan. Ia menceritakan kampung Golo Gega tahun 2007 mengalami bencana alam yang menewaskan 19 warga.

“Hanya dua mayat warga saja yang berhasil ditemukan, 17 mayat lainnya sampai hari ini belum ditemukan,”ceritanya.

Gomen mengatakan, sebelumnya mahasiswa STKIP Ruteng asal Lambaleda juga sudah melakukan kegiatan penanaman pohon di hulu Wae Cocor. (Gerasimos Satria/PTD/Floresa)