Sabtu, 27 November 2021

Menebus Darah Petani Kopi Colol 

Menebus Darah Petani

Inilah tantangan bagi masyarakat maupun pemerintah daerah. Pemda Matim harus memiliki BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) yang dapat memudahkan petani mengatasi rantai distribusi yang berbelit-belit dan mahal ongkos. Melalui BUMD, Pemda dapat membeli dan menampung kopi dari masyarakat dengan menggunakan harga yang layak, setidaknya mendekati harga di Surabaya. Sebagai Badan Usaha non-profit, tentu ini akan menguntungkan petani kecil dalam hal pemasaran hasil tanpa melalui sistem yang rumit dan mahal. Melalui dinas terkait, pemda dapat menjadikan BUMD sebagai media pendongkrak PAD sekaligus menjadi Badan Usaha yang dapat memberikan pinjaman kepada petani jika musim paceklik tiba. Dana pinjaman itu bisa didapat dari hasil penjualan kopi dari Kabupaten dengan eksportir di Surabaya. Tentunya dengan bunga yang rendah, tidak seperti bunga ijon yang mencekik petani.

Selain itu perlu adanya pemberdayaan petani kopi Manggarai lewat program pelatihan dan pengolahan dengan memperbanyak petugas penyuluh pertanian dan perkebunan dengan sistem tinggal di Desa (live in) sehingga meningkatkan produktivitas dan pengolahan kopi yang lebih canggih dan modern. Alat produksi petani pun bisa diadakan oleh pemerintah agar bisa menggenjot hasil yang maksimal.

Keberhasilan kopi arabica dan robusta asal colol Kabupaten Manggarai Timur menjuarai kompetisi uji rasa kopi nasional di Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi momentum mengembalikan kejayaan kopi Colol yang memudar sejak 1990-an. Prestasi itu harus menjadi pemicu semangat para petani dan pemerintah untuk kembali menekuni budidaya kopi secara benar dan berorientasi ekspor. Jika dibenah dengan baik, tidak menutup kemungkinan Colol akan dijadikan sebagai daerah perkebunan kopi yang juga akan berpotensi menjadi daerah wisata kopi. Dengan demikian, perjuangan berdarah petani-petani kopi Manggarai tidak tekubur bersama kenangan pahit 12 tahun silam, tetapi ditebus dengan harga dan system yang sehat bagi anak cucu mereka.

Penulisa adalah Anggota Komunitas Kopi Colol, Kupang

- Advertisement -

8 KOMENTAR

  1. Terharu membacanya…semoga pemerintah dapat mengatasi sistem monopoli hasil bumi di Manggarai

  2. Setuju!!! Saat nya pemerintah berpihak pada petani. Operasi pasar oleh dinas terkait harus ditingkatkan. Jangan lagi pemerintah di atur oleh oknum tengkulak/pengusaha yang rakus.
    Pemerintah juga harus bisa memberikan kredit murah kepada petani ketimbang petani berhadapan dengan jasa ijon yg sungguh mencekik. Pemerintah juga harus mampu memasarkan hasil bumi dari petani langsung ke pabrik. Kenapa tidak? Toh kalo masyarakat terakomodasi..hidupnya pasti akan lbh baik. Pemerintah harus benar2 bekerja utk rakyat. Jangan biarkan rakyat di gilas oleh kejam nya oknum oknum berduit.#joe

  3. Luar biasa, buah pikiran yg tertuang dlm tulisan ini adalah ungkapan jeritan hati dari para pejuang kopi Colol. Semoga tulisan ini bisa dibaca terutama oleh pihak pemerintah MaTim. Kita Mau Rakyat Sejahtera
    …Hidup Penulis!!!

  4. Turut berduka bagi para korban smga arwah merka ditrma disisi bp amin thanks buat penulisnya jd terharu

  5. Salah satu cara untuk mematikan praktik ijon kopi atau komoditas lain di manggarai, colol lebih khusus, adalah berpartisipasi aktif di Koperasi Karyawan Dioses (KOPKARDIOS). Ini yg paling tren di manggarai saat ini. Di era globalisasi kapitalistis spt sekarang ini, pemerintah tidak lagi menjadi satu satunya pihak yang menguasai hajat hidup orang banyak. Pemerintah semakin tidak berdaya di hadapan pemilik modal.

BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga