Sabtu, 27 November 2021

Menebus Darah Petani Kopi Colol 

Kondisi Hari Ini​

​Tragedi ini masih menyisakan luka yang mendalam bagi keluarga dan masyarakat Colol secara keseluruhan. Kopi adalah alasan mengapa daerah ini kerap disebut sebagai “Surga yang jatuh dari langit”. Kopi pula yang menjadi alasan mengapa sampai hari ini banyak anak-anak yang bersekolah dari daerah ini. Perjuangan masyarakat Colol adalah jembatan emas yang dapat menghubungkan mereka dengan kesejahteraan.

​Namun kondisi akhir-akhir ini rupanya belum berubah. Jika dulu masyarakat colol berjuang melawan keangkuhan pemerintah secara fisik, sekarang mereka harus berjuang dengan sistem ekonomi yang monopolistik. Ada segelintir tangan-tangan jail (invisible hand) yang mengatur sistem harga kopi sehingga terus mencekik petani.

Harga komoditi kembang kempis seturut salera pemilik modal. Sistemnya, ketika produksi naik, harga turun dan ketika produksi merosot harga dinaikkan. Petani pasrah dan mengikuti grafik harga komoditi itu walaupun secara internasional harga kopi melambung.

Selain itu, rantai penjualan kopi biji dari petani ke eksportir seringkali terlalu panjang, hal ini tentu akan menekan harga di tingakt petani karena biaya ongkos mulai dari pengumpulan di tingkat desa, kecamatan sampai ke kabupaten baru akhirnya dijual ke distributor di Ruteng untuk kemudian dikirim ke Surabaya.

Belum lagi tradisi ijon yang beranak pinak di tengah masyarakat akibat belitan ekonomi. Para petani biasanya melakukan ijon saat paceklik, yaitu antara Januari-April. Pada bulan-bulan itu kopi belum dapat dipanen, sehingga harus berutang ke tengkulak, menggadaikan kopinya dengan harga yang sangat murah. Saat musim panen, kopi itu dijual dengan menggunakan harga sesuai perjanjian ijon, bukan harga pasar.

Lebih tragis ketika jaminan pinjaman petani ke pengijon biasanya adalah kebun kopi atau sawah. Jika petani gagal panen dan tidak bisa membayar pinjaman tepat waktu, pengijon bisa memberi denda dua kali lipat pinjaman, bahkan menahan dan mengambil kebun atau sawah penjamin itu.

- Advertisement -

8 KOMENTAR

  1. Terharu membacanya…semoga pemerintah dapat mengatasi sistem monopoli hasil bumi di Manggarai

  2. Setuju!!! Saat nya pemerintah berpihak pada petani. Operasi pasar oleh dinas terkait harus ditingkatkan. Jangan lagi pemerintah di atur oleh oknum tengkulak/pengusaha yang rakus.
    Pemerintah juga harus bisa memberikan kredit murah kepada petani ketimbang petani berhadapan dengan jasa ijon yg sungguh mencekik. Pemerintah juga harus mampu memasarkan hasil bumi dari petani langsung ke pabrik. Kenapa tidak? Toh kalo masyarakat terakomodasi..hidupnya pasti akan lbh baik. Pemerintah harus benar2 bekerja utk rakyat. Jangan biarkan rakyat di gilas oleh kejam nya oknum oknum berduit.#joe

  3. Luar biasa, buah pikiran yg tertuang dlm tulisan ini adalah ungkapan jeritan hati dari para pejuang kopi Colol. Semoga tulisan ini bisa dibaca terutama oleh pihak pemerintah MaTim. Kita Mau Rakyat Sejahtera
    …Hidup Penulis!!!

  4. Turut berduka bagi para korban smga arwah merka ditrma disisi bp amin thanks buat penulisnya jd terharu

  5. Salah satu cara untuk mematikan praktik ijon kopi atau komoditas lain di manggarai, colol lebih khusus, adalah berpartisipasi aktif di Koperasi Karyawan Dioses (KOPKARDIOS). Ini yg paling tren di manggarai saat ini. Di era globalisasi kapitalistis spt sekarang ini, pemerintah tidak lagi menjadi satu satunya pihak yang menguasai hajat hidup orang banyak. Pemerintah semakin tidak berdaya di hadapan pemilik modal.

BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga