Sabtu, 27 November 2021

Menebus Darah Petani Kopi Colol 

Namun aksi protes ini justru memicu bentrok fisik antar warga versus polisi. Enam warga tewas, puluhan lainnya terluka, termasuk 7 di antaranya menderita cacat seumur hidup. Sejumlah anggota Polres Manggarai juga terluka. Kaca pintu dan jendela, juga beberapa bagian gedung Mapolres rusak dalam insiden ini. Tragedi Rabu, 10 Maret 2004 ini di kenal dengan sebutan “Rabu Berdarah”.

Bagaimana ending-nya? Beberapa warga ditangkap dan diproses hukum karena merusak sarana di Mapolres Manggarai. Namun tidak ada pihak yang dihukum untuk menebus kelalaian yang mengakibatkan enam warga tewas itu. Kapolres Manggarai saat itu yang dijabat oleh AKBP Boni Tampoi divonis bebas oleh pengadilan. Ketidakadilan ini jelas menimbulkan luka yang sulit disembuhkan.

Upaya membabi buta dari pemerintah mencaplok wilayah kekuasaan masyarakat adat, menjelaskan kepada kita bahwa negara dalam hal ini pemerintah tidak menghormati bahkan tidak ingin mengakui hak masyarakat adat. Hal tersebut terlihat dari tindakan Pemerintah Daerah Manggarai yang tak berprikemanusiaan.

Sikap tidak menghormati ini jelas sebuah pembangkangan terhadap eksistensi masyarakat adat yang tertuang dalam UUD 1945 amandemen ke Dua Pasal 18B ayat (2) yang mengatakan: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dengan Undang-Undang.”

Kekuasaan dan kewenangan yang ada pada negara, telah menjadi alat legitimasi untuk bertindak sewenang-wenang dengan tidak menghargai hak-hak masyarakat adat atau bahkan dengan kekuasaan yang ada egara telah memarjinalkan masyarakat adat.

- Advertisement -

8 KOMENTAR

  1. Terharu membacanya…semoga pemerintah dapat mengatasi sistem monopoli hasil bumi di Manggarai

  2. Setuju!!! Saat nya pemerintah berpihak pada petani. Operasi pasar oleh dinas terkait harus ditingkatkan. Jangan lagi pemerintah di atur oleh oknum tengkulak/pengusaha yang rakus.
    Pemerintah juga harus bisa memberikan kredit murah kepada petani ketimbang petani berhadapan dengan jasa ijon yg sungguh mencekik. Pemerintah juga harus mampu memasarkan hasil bumi dari petani langsung ke pabrik. Kenapa tidak? Toh kalo masyarakat terakomodasi..hidupnya pasti akan lbh baik. Pemerintah harus benar2 bekerja utk rakyat. Jangan biarkan rakyat di gilas oleh kejam nya oknum oknum berduit.#joe

  3. Luar biasa, buah pikiran yg tertuang dlm tulisan ini adalah ungkapan jeritan hati dari para pejuang kopi Colol. Semoga tulisan ini bisa dibaca terutama oleh pihak pemerintah MaTim. Kita Mau Rakyat Sejahtera
    …Hidup Penulis!!!

  4. Turut berduka bagi para korban smga arwah merka ditrma disisi bp amin thanks buat penulisnya jd terharu

  5. Salah satu cara untuk mematikan praktik ijon kopi atau komoditas lain di manggarai, colol lebih khusus, adalah berpartisipasi aktif di Koperasi Karyawan Dioses (KOPKARDIOS). Ini yg paling tren di manggarai saat ini. Di era globalisasi kapitalistis spt sekarang ini, pemerintah tidak lagi menjadi satu satunya pihak yang menguasai hajat hidup orang banyak. Pemerintah semakin tidak berdaya di hadapan pemilik modal.

BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga