Sabtu, 27 November 2021

Menebus Darah Petani Kopi Colol 

Rabu Berdarah

Memasuki Oktober 2003, Colol seperti kembali ke titik nadir. Kebijakan pemerintah Manggarai membabat kopi rakyat melahirkan derita dan nestapa bagi masyarakat Colol. Tanaman kopi rata dengan tanah. Ratap tangis warga saat itu membela kesunyian Colol bersama deru mesin ‘Chain Saw’ yang meraung di atas langit-langit kampung Colol.

Kebijakan Bupati Manggarai (saat itu), Drs. Anthony Bagul Dagur ibarat petir di siang bolong. Pembabatan di Welu, Desa Rendenao mengakibatkan 42 KK kehilangan kebun kopi. Pembabatan di Biting, Desa Uluwae, 35 KK kehilangan kebun kopi, di Colol, Desa Ulu Wae 32 KK. Total warga tiga desa korban pembabatan tanaman kopi 162 KK. Sedikitnya 1.000 ha kopi ludes. Warga hanya bisa menarik napas panjang. Tali gantungan hidup terasa hampir putus. Dicap perambah hutan pula. Sungguh menyakitkan.

Melihat situasi ini, warga tak tinggal diam. Berbagai perlawanan pun dilakukan hingga hampir terjadi pertumpahan darah di lingko Colol. Untungnya, tokoh adat, tokoh masyarakat dan agama bisa mendamaikan suasana sehingga pada akhirnya tim terpadu yang terdiri dari tentara, polisi, preman dan tenaga harian kembali ke Ruteng. Berbagai peristiwa aneh seperti beberapa anggota tim yang dicengkram babi hutan juga memaksa mereka pulang sambil mencari waktu untuk negosiasi.

​Harapan hidup akhirnya kembali ada. Namun hanya untuk sesaat. Tepat tanggal 10 Maret 2004, sekelompok petani kopi asal Colol datang ke Mapolres Manggarai untuk meminta polisi membebaskan beberapa warga yang ditahan gara-gara mencari ubi kayu di lahan yang sedang bersengketa. Penculikan petani itu terjadi pada tanggal 9 Marer 2004 dan dinilai sebagai strategi provokasi pemerintah untuk membalas dendam atas pengusiran paksa tim pembabat kopi dari kampung Colol.

- Advertisement -

8 KOMENTAR

  1. Terharu membacanya…semoga pemerintah dapat mengatasi sistem monopoli hasil bumi di Manggarai

  2. Setuju!!! Saat nya pemerintah berpihak pada petani. Operasi pasar oleh dinas terkait harus ditingkatkan. Jangan lagi pemerintah di atur oleh oknum tengkulak/pengusaha yang rakus.
    Pemerintah juga harus bisa memberikan kredit murah kepada petani ketimbang petani berhadapan dengan jasa ijon yg sungguh mencekik. Pemerintah juga harus mampu memasarkan hasil bumi dari petani langsung ke pabrik. Kenapa tidak? Toh kalo masyarakat terakomodasi..hidupnya pasti akan lbh baik. Pemerintah harus benar2 bekerja utk rakyat. Jangan biarkan rakyat di gilas oleh kejam nya oknum oknum berduit.#joe

  3. Luar biasa, buah pikiran yg tertuang dlm tulisan ini adalah ungkapan jeritan hati dari para pejuang kopi Colol. Semoga tulisan ini bisa dibaca terutama oleh pihak pemerintah MaTim. Kita Mau Rakyat Sejahtera
    …Hidup Penulis!!!

  4. Turut berduka bagi para korban smga arwah merka ditrma disisi bp amin thanks buat penulisnya jd terharu

  5. Salah satu cara untuk mematikan praktik ijon kopi atau komoditas lain di manggarai, colol lebih khusus, adalah berpartisipasi aktif di Koperasi Karyawan Dioses (KOPKARDIOS). Ini yg paling tren di manggarai saat ini. Di era globalisasi kapitalistis spt sekarang ini, pemerintah tidak lagi menjadi satu satunya pihak yang menguasai hajat hidup orang banyak. Pemerintah semakin tidak berdaya di hadapan pemilik modal.

BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga