Pastor John Djonga Pr berada di tengah-tengah masyarakat di Wamena, Papua, 2012. (Foto: Youtube.com)

Floresa.co – Pastor John Djonga Pr, imam aktivis di Papua yang diperiksa polisi  pekan lalu terkait dengan tudingan kasus makar mengatakan, ia tidak akan takut untuk tetap setia menjalankan tugas pastoral di tengah rentannya tudingan yang bisa saja membawa ia ke penjara.

Ia menjalani pemeriksaan selama 4 jam dan ditanya sekitar 55 pertanyaan oleh dua polisi di Polres Jayawijaya pada Kamis pekan lalu, 25 Februari. Pastor ini dipanggil polisi setelah menghadiri upacara pemberkatan kantor Dewan Adat Papua di Wamena pada 15 Februari, di mana saat itu diresmikan pula kantor United Liberation Movement for West Papua  (ULMWP) atau Gerakan Pembebasan Papua, sebuah organisasi pro kemerdekaan.

Pastor John sebelumnya menolak diperiksa, namun kemudian bersedia setelah berkonsultasi dengan pimpinannya Uskup Jayapura, Mgr Leo Laba Ladjar OFM.

Pastor yang menerima penghargan HAM, Yap Thiam Hien Award pada 2009 ini, mengatakan, pengalaman dipanggil polisi ini tidak akan membuatnya takut.

“Ini sudah menjadi tugas saya di daerah konflik seperti ini. Saya tidak akan gentar,” katanya kepada ucanews.com, 29 Februari.

Hadir dan ikut bergumul dengan masyarakat Papua, menurutnya, merupakan bagian dari panggilan dan upaya mewujudkan misi Gereja.

“Tidak mungkin saya diam berhadapan dengan fakta masyarakat mengalami ketidakadilan, mengalami kekerasan,” katanya.

Selama diperiksa pada Kamis, ia mengaku ditanya terkait alasan kehadirannya, pengetahuannya tentang dewan adat dan ULMWP, juga kaitannya dengan organisasi itu.