Ribuan orang menyambut kedatangan bupati dan wakil bupati Deno Kamelus-Victor Madur, Kamis (18/2/2016). Foto: Ardy Abba/Floresa

Menurut Marsel kegiatan syukuran dengan mewah ini sangatlah kontraproduktif mengingatnya beratnya tugas-tugas kepala daerah dan wakil kepala daerah Manggarai ke depannya.

“Tidak ada urgensi yang relevan antara seremonial pesta kemenangan itu terhadap rencana pembangunan yang akan digarap oleh pasangan bupati dan wakil bupati terpilih,” ujar Marsel kepada Floresa.co, Senin sore.

Walau disatu sisi euforia dan syukuran mewah itu dinilai wajar-wajar saja, namun ia mengatakan, hajatan tersebut membutuhkan dana mahal karena harus mengumpulkan massa dan apalagi kalau itu dibuat lebih dari satu kali.

“Apalagi menurut kabarnya, hajatan yang mewah tersebut menggunakan uang negara. Kan itu, hajatan dinas,” tegasnya.

“Lebih baik hajatan pesta kemenangan itu dikemas dalam nuansa sederhana namun bermakna. Masih banyak sektor pembangunan lain yang membutuhkan uang negara tersebut,” tambah Marsel.

Alternatif lain yang mesti dipilih, kata dia, yaitu panitia hajatan pesta kemenangan itu mengemas acara dengan mengerahkan kanal-kanal pembangunan, infrastruktur politik lokal dan komponen masyarakat untuk bergerak, maju dan bergandeng tangan membangun Manggarai 5 tahun ke depan. Dengan demikian, Pilkada yang amat kompetitif itu telah menghasilkan pemimpin yang produktif dan siap kerja.

“Bahkan, jika perlu itu dilakukan dalam wujud langsung mengeksekusi program pembangunan yang urgen untuk dilakukan dalam jangka pendek,” kata Marsel.

Menurutnya hal tersebut dilakukan, mengingat masih tingginya tumpukan persoalan daerah yang membutuhkan kerja cepat dan sigap dari pemimpin daerah.

“Jangan sampai euforia kemenangan pilkada berlarut,” ujarnya. (Ardy Abba/PTD/Floresa)