Para uskup yang menghadiri pernikahan pasangan dari keluarga penguasa di Jakarta pada Sabtu (6/12/2016). (Foto: Forkoma PMKRI)

Kedua,  kehadiran para uskup mungkin tidak bisa langsung divonis dengan istilah Gereja yang kapitalis dan pro orang-orang kaya. Dengan takaran seperti ini, kita menciptakan hakim bagi diri sendiri. Juga secara psikologis menciptakan alineasi dari orang-orang kaya yang juga menjadi bagian dari Gereja.

Dalam hal ini, kalau intensi dan tujua para uskup untuk memberikan berkat mereka atas pasangan yang dinikahkan sebagai bagian dari perhatian terhadap umat, maka kehadiran mereka sah-sah saja. Namun, kalau tujuan mereka berlandaskan pemikiran bahwa keluarga Ciputra adalah keluarga kaya.  Dengnnya, sebagai gembala umat mereka menciptakan sebuah pemisahan keberpihakan dalam Gereja. Maka hal tersebut sudah menjadi hakim atas prilaku mereka sendiri. Sikap dan cara pandang seperti itu patut kita kritik.

Memang tak dapat disangkal pertanyaan-pertanyaan dari berbagai kalangan. Mengapa 12 Uskup hadir dalam pernikahan tersebut? Apa motif di balik kehadiran mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang lugas dan sederhana perlu dijawabi oleh para gembala umat. Khususny ke-12 Uskup yang disebutkan.  Juga memurnikan tugas perutusan mereka sebagai gembala umat di keuskupan-keuskupan yang mereka layani.

Sebagai bagian dari Gereja dan Umat, kita percaya bahwa kehadiran mereka yang menghebohkan situasi Gereja pada masa pra-paskah ini sebagai bentuk pelayanan. Namun, kalau ada motif-motif lain yang tidak sesuai dengan citra visi, misi, dan perutusan Gereja untuk semua, maka perlu mereka jawab.  Dalam arti jika  mereka hadir karena diundang oleh keluarga kaya, maka mereka sudah memiliki bahan refleksi tersendiri dalam masa puasa ini untuk bertobat.

Mengakhiri tulisan ini, penulis mengingatkan bahwa para uskup dan imam adalah gembala umat. Untuk semua umat. Jangan hanya rajin dan cepat mengatakan ia kalau diundang oleh si kaya. Lalu bergegas menuju ruang perjamuan pesta bersama mereka. Juga cepat mengatakan ia dan rajin juga kalau diundang si papa dan miskin ke gubuk-gubuk mereka.

Yesus adalah Tuhan bagi semua.  Penulis juga kadang ingin menggugatnya, ketika beliau bersama keluarga Kudus, Maria (mungkin Yoseph juga) menghadiri pesta pernikahan di Kanna. Termasuk makan dan minum di rumah Zakheus yang terkenal sebagai koruptor kelas kakap pada zaman Yesus. Namun, penulis yakin, bahwa ini juga bagian dari keberpihakan Yesus pada umatNya.

Penulis Rohaniwan dan pemerhatin masalah politik, tinggal di Steyl Belanda.

[Tulisan ini dikutip dari Mirifica.net, situs milik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)]