Berkelebat juga di kepalanya wajah Paulina, gadis sebangsanya. Adakah lelaki senekat Polus menyembunyikan malam buat Paulina?

Sadar dalam situasi genting, dilupakannya Paulina. Maria memaksa Polus segera berlari ke arah timur. “Mereka akan membunuhmu nana. Lari…tinggalkan tempat ini,” desak Maria. Mereka melipir pergi dari tepian itu sebelum regu penangkap beraksi.

Agak jauh, mendekat ke dermaga, Maria terengah-engah bertanya, “Nana e, sejak kapan kamu bisa menyembunyikan malam?” Polus tak lekas menjawab.

Ditatapnya wajah Polus lekat-lekat. Tatapan Maria belum beralih ketika letupan pistol terdengar dari arah pub. Maria panik bukan kepalang dan bertanya. Itu polisi?

Seperti anak ayam yang berlindung di balik sayap ketika rajawali menyergap, Maria mendekap di dada Polus yang sekokoh tiang Dermaga Borong.

Polus membisikkan jawaban dengan secuil enggan melepas dekapan “Sejak engkau raib dari pelukanku, Maria!”

Maria memeluknya lebih erat. Erat sekali! Seerat temali yang melilit pohon dan ranting-ranting kakao di Tana Rata.***

Nana Lalong adalah nama pena untuk seorang mahasiswa asal Manggarai yang sedang studi di Jakarta.