Kota itu rupanya tak murah hati mengirim pemuda-pemudanya ke tepian ini. Bukankah panen kakao, kopi, pisang dan kopra sedang limpah-limpahnya? Pemuda tanah ini sedang tidak kere bukan? Mereka bertanya-tanya sebelum melupakan kekecewaan dalam tidur yang entah bagaimana kita menyebutnya. Kita jadi enggan menyebut tidur malam. Sialan, lelaki itu benar-benar mengacaukan semuanya.

Keesokannya saat jalan-jalan di pantai, gadis-gadis itu menyesalkan malam yang tak jadi datang. Ada janji-janji yang tak terpenuhi. Mereka cemas akan malam berikutnya yang juga barangkali tak jadi datang. Kapan botol-botol itu laku? Lipstik dan segala kosmetik untuk mempercantik diri habis sia-sia.

Ada yang lupa disihir lelaki yang menyembunyikan malam. Ia tak mampu menghentikan detak jam yang menunjuk gerak waktu. Di tepian itu orang menyaksikan waktu yang bergerak maju sementara di luar senja menggantung begitu rupa. Malam tak benar-benar turun. Siang tak pernah benar-benar pergi.

Betapa hebat kopi yang diteguknya. Hitam legam kopi bahkan bisa melarutkan malam dalam gelas tempurung. Ia menyesap malam pelahan-lahan ke dalam perutnya. Dengannya orang tak bisa lagi mencegah. Lelaki itu menyembunyikan malam dalam perutnya. Usai tegukan terakhir, ritual itu sukses. Malam terus menjelang. Siang enggan pergi. Senja menggantung begitu rupa.

“Tak ada cara terampuh mengembalikan malam dari lelaki itu. Perutnya disabet, isinya dibiarkan terburai, dengan itu segalanya akan kembali normal!” begitu usul tuan pub yang satu dengan nada berang. Ia mengatakan itu sambil mengacungkan pistolnya. Ia satu-satunya Tuan Pub yang punya pistol di tepian itu. Yang lain masih saja diam ketika ia melanjutkan.