“Itulah soalnya, Yu. Ia akan menyesap kopi itu pelahan-lahan. Tak mudah rupanya menyembunyikan malam. Ia menghabiskan tempurung kopi berjam-jam. Di tegukan terakhir, saat ampas di dasar tempurung mulai kelihatan, ritual itu berhasil. Kita tak dapat lagi mencegahnya. Malam akan terus menjelang. Siang terasa enggan pergi. Malam tak kunjung datang.”

“Wuih, hebat banget. Gi mana sih cara membatalkan ritual kopi lelaki itu Pi, biar malam gak cancel kayak penerbangan gitu?” Neng Ayu makin penasaran. Baru kali ini didengarnya ada lelaki sakti yang bisa menyembunyikan malam.

Tuan pub yang sekalian dipanggil Papi itu tambah semangat berkisah. Sekali ini ia tampil seperti pastor yang sungguh didengarkan khotbahnya. Ia menyulut sebatang Sampoerna dan melanjutkan “Itulah soalnya. Di pantai ini, lelaki itu selalu menyendiri. Ia duduk dengan kobaran api di sampingnya. Pada api itu, ia tahtakan tiga batu membentuk tungku. Ia letakkan periuk tanah yang legam di atas tungku.

Racikan kopi untuk ritual direbusnya hingga mendidih. Saat kopi matang, ia akan membiarkan uap mengepul. Ia merapalkan mantera. Ia memandang seluas samudera. Matanya akan menyapu pandang kesana kemari sambil mulut komat-kamit. Ia mulai meneguk dari tempurungnya.

Tegukan terakhir diupayakannya terjadi saat tak ada orang lain yang menyaksikan. Kita pun tak pernah tahu akhirnya dimana ia menyembunyikan malam. Yang kita tahu hanyalah senja menggantung setelah di pantai itu datang lelaki yang membuat ritual kopi. Ia berhasil menyembunyikan malam di tegukan terakhir. Malam tak jadi datang. Siang tak benar-benar pergi. Itulah senja yang menggantung.”

Bertahannya cahaya senja tentu sungguh indah dan langka. Tetapi apalah arti keindahan jika secara ekonomi merugikan? Papi ingat akan kerugian yang tiap kali terjadi karena ulah lelaki itu. Minuman tak laku. Tamu tak jadi datang. Gadis-gadis itu akan pergi tidur dengan dandanan yang belum acak dan kosmetik yang tak luntur. Mereka membincang malam sepi pengunjung.