Bukankah ini sebuah keindahan yang langka? Mengapa mereka kecewa dengan bertahannya langit jingga dan cahaya senja yang keemas-emasan? Bukankah di tempat lain senja dijemput dengan rindu. Orang menyaksikan berlalunya dengan perasaan rawan dan enggan kehilangan.

Tahukah mereka lelaki bernama Sukad yang memotong senja sebesar kartu pos dan mengirimnya untuk kekasihnya, Alina? Atau pun negeri senja seperi diidam-idamkan itu? Oh, betapa menyenangkannya. Orang bisa duduk lama-lama di pantai. Di tepian ini orang malah kecewa. Betapa tidak adil, sebab di luar sana orang memburu senja dan mengabadikannya dengan kamera.

Tenanglah, yang lain coba menghibur, sebentar lagi tamu datang. Tetapi segera saja dibantah oleh gadis lainnya. Bagaimana tamu datang ketika senja menggantung dan gelap belum benar-benar turun? Bukankah tamu-tamu kita tak ingin wajahnya kelihatan oleh orang-orang di jalanan.

Mereka takut ketahuan datang kemari. Tentulah mereka pandai menyembunyikan belang di hidungnya. Gelap malam perlu untuk menerangi langkah mereka ke tempat ini. Pria-pria yang dituntun malam.

Gadis-gadis itu berbantah-bantahan. Ada yang tak tuntas dijelaskan pada malam yang terus menjelang di tepian itu. Tuan pemilik pup menata botol-botol minuman. Bir dipisahkan dari minuman black label dan red label. Pengunjung terus saja dinanti. Minuman-minuman ini harus laku.

Bagaimanapun caranya, gadis-gadis binaan itu perlu pandai mengempeskan dompet pengunjung dengan tawa renyah dan celoteh ringan. Lady escort adalah sebutan keren untuk mereka.

Makan malam usai. Koleksi lagu terbaik lebih dari separuh telah didengarkan. Belum ada satu dua pengunjung yang datang. Lady escort sudah duduk menanti di teras depan sambil mengakrabi gadget.

Tetapi, kali ini mereka rupanya lebih tertarik membincang hari yang aneh. Senja menggantung dan malam yang terus menjelang. Siang tak pernah benar-benar pergi. Malam tak datang dengan sempurna.