Gelap akan turun pelahan hingga membungkus pantai itu dengan sempurna. Saat itulah gadis-gadis berbetis licin dan mengkal meninggalkan pantai. Deru musik seperti memberi pesan mendesak. Ada yang harus mereka mulai di saat orang lain mengakhiri. Ada yang harus mereka raih di saat orang lain usai menghitung raihannya sehari. Mereka bagai pelaut di tepian itu yang bergegas ketika senja menjelang dan malam segera datang.

Lantas, ada yang bangkit di tepian ini setelah bola mentari menghilang di cakrawala. Di sini orang tidak saja datang menikmati semburat cahaya senja yang keemas-emasan dan berkilau-kilauan. Mereka hadir juga untuk sebentar menunggu datangnya malam.

Senja bahkan diharapkan cepat berlalu oleh sebagian lelaki yang tiap kali datang. Gadis-gadis berbetis licin dan mengkal mengharapkan hal serupa. Sore itu mereka duduk di atas bebatuan sambil memandang ke barat. Mentari memancarkan sinar emas kemerah-merahan. Namun, gelap tak pernah benar-benar sempurna. Malam tak kunjung tiba.

Ada yang aneh pada senja kali ini. Belum ada pengunjung yang datang. Tak seperti biasanya. Tak ada lalu lalang pria yang menikmati kemuning senja sebelum masuk dalamĀ  cahaya remang-remang dan malam turun dengan sempurna menelan pucuk-pucuk kelapa, pepohonan, rumah-rumah warga, dan juga belang di hidung para lelaki.

***

Tiba-tiba ada yang lebih menarik dari cahaya senja yang keemas-emasan. Dan itu adalah pria yang menyesap secangkir kopi. Satu-satunya pria yang muncul sore itu.

Ketiga gadis kita penasaran sambil mengawasi gerak-gerik lelaki itu. Lelaki yang merayakan senja sambil menyesap kopi paling nikmat, seolah tidak ada lagi yang lebih nikmat.