Pastor Yohanes Kristoforus Tara OFM bersama sejumlah pendeta, aktivis, warga lokal dan mahasiswa menduduki lokasi tambang di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT pada Kamis (27/1/2016). (Foto: Yustinus Darma)

Floresa.co – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia cabang Nusa Tenggara Timur (Walhi NTT) akan memfasilitasi diskusi selama tiga hari untuk membahas persoalan lingkungan dan bersama-sama mencari solusi serta langkah konkret.

Kegiatan ini yang digelar pada Selasa-Kamis (16 – 18/2/2016) di Puskolap Jiro-Jaro – WTM, Maumere, Sikka diikuti oleh 48 peserta. Fasilitatornya adalah dari Walhi nasional dan Walhi NTT.

Acara hari pertama dan hari kedua diisi dengan diskusi dan penyusunan agenda kerja Walhi periode 2016-2020.

Sementara itu, hari ketiga pada Kamis, bakal dilakukan pemilihan Direktur Walhi NTT periode 2015-2020.

Herry Naif, Direktur Eksekutif Walhi NTT mengatakan, diskusi ini dipicu oleh menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan dalam menopang kehidupan masyarakat NTT.

Hal ini, menurut Herry, bisa dilihat dengan membaca gejala mencemaskan beberapa waktu terakhir.

“Beberapa bulan terakhir ini NTT dilandai kekeringan yang berkepanjangan hingga bulan Desember dan hingga hari ini di musim penghujan pun curah hujan masih sangat rendah,” katanya kepada Floresa.co, Senin (15/2/2016) dalam sebuah pernyataan tertulis.

Sayangnya, kata dia, fakta-fakta ini tidak menumbukan kesadaran sepenuhnya untuk memotivasi para pengambil kebijakan baik di tingkat nasional ataupun di tingkat Provinsi NTT dan Pemkab se-NTT bahkan masyarakat luas untuk menjaga keberlangsungan lingkungan hidup.