BerandaPERISTIWAHari Pers, Jurnalis di...

Hari Pers, Jurnalis di Mabar Gelar Pameran Foto dan Lomba Menulis

Labuan Bajo,Floresa.co – Memperingati hari pers nasional pada 9 Februari, jurnalis di Manggari Barat (Mabar) – Flores, yang berhimpun dalam Perhimpunan Wartawan Manggarai Barat(PWMB) menggelar pameran foto dan lomba menulis antar sekolah menengah atas.

Ketua PWMB, Servantinus Mammiliaus mengatakan melalui pameran foto, masyarakat diajak untuk berkenalan dengan salah satu karya jurnalistik, yaitu foto.

Foto-foto yang dipamerkan bertema lingkungan dan pariwisata. Diharapkan dengan itu, masyarkat makin mengenal potensi wisata dan peduli dengan lingkungan daerahnya.

Servantinus menjelaskan kegiatan lomba karya ilmiah ini, selain untuk memeriahkan hari pers, juga sebagai ajang untuk merangsang potensi menulis yang dimiliki siswa dan siswi sekolah menengah di kota Labuan Bajo.

Ketua Panitia Pelaksana hari pers, Paulus Y.A. Bataona mengatakan kegiatan lomba karya ilmiah ini melibatkan enam sekolah tingkat SMA/MA dan SMK yang ada didalam kota Labuan Bajo.

Sekolah-sekolah tersebut adalah SMAN 1 Labuan Bajo,SMKN 1 Labuan Bajo, MAN Labuan Bajo, SMAK St.Ignasius Loyola Labuan Bajo, SMK Stella Maris, dan SMAN 2 Komodo.

Sekolah-sekolah tersebut akan mengirimkan utusan tiga sampai empat orang siswa terbaik mereka untuk mengikuti perlombaan.

Ada pun hadiah yang akan diberikan berupa satu piala bergilir dan tiga piala tetap. Kemudian, uang sebesar RP 1.000.000 untuk juara 1, juara 2 senilai Rp 750.000, juara 3 senilai Rp 500.000. Untuk juara harapan 2 senilai Rp 250.000.

Bataona mengatakan hadiah ini untuk memberikan motivasi kepada pelajar tingkat SMA agar mereka makin mencintai kegiatan tulis menulis yang selama ini hanya dilakukan oleh wartawan. (Sefry Jemandu/PTD/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Surat Domba untuk Gembala: Bapa Uskup, Akhiri Penderitaan Gereja dan Umat Keuskupan Ruteng

Floresa.co - Polemik di Keuskupan Ruteng yang memanas setelah pada pertengahan Juni...

Sudah Seharusnya Cara-cara Represif Ditinggalkan

Seharusnya polisi bisa bertindak lebih bermartabat dari sekadar mendaur ulang cara kekerasan. Pelaku wisata dan warga bukan musuh, apalagi mereka hanya ingin menuntut haknya. Menabur benih kekerasan hanya akan menuai konflik berkepanjangan.