Ilustrasi

Karya: HILDEGARDIS Y. PANDUR

Sekedar mengisahkan kembali kisah yang pernah terjalin. Ini pertemuan pertama setelah malam itu engkau memutuskan untuk melanjutkan apa yang menjadi pilihan hidupmu.

Malam itu, aku serasa berada dalam sakratul maut. Aku harus memutuskan suatu yang sangat sulit tuk kulakukan. Antara mempertahankan egoku atau merelakan semuanya tuk mewujudkan impian dan kebahagiaan orang lain. Bukan hanya untuk satu orang melainkan untuk banyak orang.

Malam itu, teleponku terus bordering. Aku tahu engkau juga mengalami hal yang sama. Kebimbangan yang begitu besar menghampirimu. Karena kesokan paginya engkau harus menghadap pimpinanmu untuk memberikan jawaban atas keputusanmu.

Sementara aku, malam itu harus bergulat dengan perasaanku melawan kerasnya egoku dan sakit hati yang akan aku terima.

“Jangan salahkan keadaan, salahkan saja perasaan. Kenapa harus ada cinta?”

Itu sepenggal kata dariku yang terucap di malam itu. Kau utarakan semua pergulatan batinmu padaku, antara penyesalan, rasa bersalah dan panggilan hidup.

Aku tak banyak berkata-kata, ketika tengah malam menghampiri, keputusanku sudah bulat, aku akan mengorbankan hati dan perasaanku, melawan egoku dan merelakan kebahagiaanku untuk orang lain, terutama untuk orang-orang yang mencintaimu.

Dan, kau tak kuasa menahan derai air mata hingga dari seberang ku dengar kau sesenggukan.

Sejak malam itu aku perlahan menghindar, menjauh dan bahkan ingin menghilang dari kehidupanmu. Hingga di suatu waktu ku dengar kau telah ada di jalan itu.