Oleh: INOSENTIUS MANSUR

Semenjak bom di Jakarta beberapa waktu lalu, penolakan terhadap organisasi radikal semakin militan. Salah satunya adalah penolakan terhadap organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Konon, Gafatar berafiliasi dengan teroris dan berpotensi menyebabkan distorsi publik berkedok agama.

Menghilangnya beberapa orang yang dicurigai bergabung dengan Gafatar menyebabkan banyak orang semakin meyakini bahwa organisasi ini layak dibubarkan.

Maka, Gafatar dicap sebagai aliran sesat. Menariknya, stigmatisasi seperti ini langsung disertai dengan tindakan anarkis. Tanpa tedeng aling-aling, mereka didiskreditkan dan diusir dengan cara kekerasan.

Cap negatif, kebencian dan tindakan brutal terhadap kelompok Gafatar berkembang begitu cepat. Dalam “sekejap” saja, kelompok Gafatar kehilangan tempat tinggal, ketiadaan jaminan (keamanan) dan pegangan hidup. Mereka diperlakukan secara amat tidak adil oleh sesamanya. Dari anak-anak, hingga orang-orang dewas diberi stigma sebagai golongan kafir, melawan agama dan subordinasi dari teroris.

Meskipun sampai sekarang masih ada pro kontra tentang sepak terjang kelompok ini, tetapi toh kita juga belum secara jelas dan pasti memastikan bahwa mereka termasuk kelompok semi teroris atau kelompok radikal yang amat membahayakan.

Homo Homini Salus

Apa yang telah dilakukan terhadap kelompok Gafatar mengafirmasi klaim Hobbes dalam Leviathan (1651) bahwa manusia merupakan serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Baginya, kecondongan dalam diri manusia adalah mempertahankan diri secara berlebihan.