Pastor Yohanes Kristoforus Tara OFM bersama sejumlah pendeta, aktivis, warga lokal dan mahasiswa menduduki lokasi tambang di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT pada Kamis (27/1/2016). (Foto: Yustinus Darma)

Floresa.co – Selama tiga hari pada akhir pekan lalu, para tokoh agama Katolik dan Protestan di Tomor barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bergabung bersama sekitar 100 orang warga lokal, mahasiswa dan aktivis menggelar aksi demonstrasi menentang kehadiran perusahan tambang mangan.

PT Soe Makmur Resources (SMR) yang masuk ke Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada 2008 mendapat izin konsensi dari Gubernur Frans Lebu Raya untuk lahan 4.555 hektar, yang meliputi enam desa di dua kecamatan.

Namun, menurut masyarakat lokal, area konsensi itu mencaplok lahan pertanian mereka dan aktivitas perusahan itu sudah menimbulkan bencana ekologi.

Dalam aksi pada 27 Januari, massa menduduki lokasi tambang, namun kemudian dihadang oleh oleh penjaga keamanan perusahan dan aparat polisi serta TNI.

Sementara dalam aksi pada 28 Januari, mereka mendatangi kantor DPRD, kantor polisi dan bupati TTS meminta agar izin perusahan itu dicabut.

Sehari setelahnya, pada 29 Januari, di Kupang, elemen sipil berdemo lagi, dengan tuntutan yang sama.

Soleman Nesimnasi, warga Dusun Supul Nai, Kecamatan Nuatnana mengaku kehilangan 4 hektar lahan, yang masuk dalam wilayah konsensi perusahan.

Lahan itu, kata dia, sebelumnya dipakai untuk menanam padi, jagung, ubi dan kacang-kacangan.