Polemik Kehadiran Pembuat Mukjizat di Pagal, Cibal

11109

Ia juga mempertanyakan, apakah pemerintah dan aparat keamanan sudah memastikan atau menjamin bahwa para pembuat mujizat itu tidak bakal mendatangkan perbantahan di antara warga pasca ketiga oknum tersebut pergi.

“Apakah pemerintah sudah mengetahui gerakan kelompok pembuat mujizat ini? Bila belum, caritahulah, jangan sampai anda sedang diperdaya demi kepentingan mereka,” ujar Romo Andre.

Apalagi, kata dia, pernyataan para pembuat mujizat di hari-hari pertama saat melakukan pengobatan sangat bertolak belakang dengan gejala beberapa hari terakhir.

Pernyataan pembuat mujizat di hari pertama, demikian Romo Andre, mereka melakukan penyembuhan secara gratis.

Namun lanjutnya, belakangan diketahui, berdasarkan kesaksian pasien, mereka diminta membayar Rp 200 ribu per orang.

“Kasihan sekali nasib para pasien yang datang dari kampung-kampung yang jauh dengan bayaran ojek yang mahal pulang pergi,” ujar Romo Andre.

Romo Andre menambahkan, jika saja Rp 200 ribu untuk biaya penyembuhan itu dikalkulasikan dengan begitu banyak pasien yang datang, maka pembuat mujizat itu bakal meraup keuntungan besar.

“Tentu kita tidak berhak mencegah pasien untuk datang disembuhkan oleh mereka. Tapi amat tidak manusiawi bila kita mendiamkan aksi para pembuat mujizat, yang terus mengumpulkan uang dari orang-orang kecil,” katanya.

Pengakuan Romo Andre, senanda dengan informasi seorang warga di Pagal kepada Floresa.co.

Warga tersebut yang enggan namanya disebut mengatakan, ia bertemu dengan beberapa warga yang memang sempat sembuh usai diobati, namun kemudian, kondisinya kembali seperti semula.