Edi Endi (kiri) bersama dengan Ketua DPD II Golkar Mabar, Mateus Hamsi

Sebab, jelasnya, jika bukan karena permainan uang, pasti mengutamakan ketentuan yang berlaku.

Ia juga mempertanyakan alasan bahwa Edi dipilih karena memiliki gelar sarjana.

”DPP tidak meminta kita untuk melampirkan pendidikan terakhir (saat mengusulkan nama-nama pengganti Hamsi), makanya saya tidak mencantumkan riwayat pendidikan S1,” jelasnya.

Kata Jeramun, dirinya juga sudah menempuh pendidikan S1 pada tahun 2014.

”Pendidikan saya sarjana hukum, diwisuda bulan Agustus 2014. Kalau S1 sebagai salah satu kriteria menjadi ketua, saya sudah memenuhi unsur itu,” ujarnya.

Namun, ketika ditanya Floresa.co, di mana ia mengenyam pendidikan, ia tidak menjelaskan lebih lanjut.

Menurut Jeramun, proses pengusulan nama-nama mengantikan Hamsi sudah sesuai permintaan DPD I NTT dan DPP.

”Awalnya, Partai Golkar Mabar mengusul dua nama, yakni saya sendiri bersama Ibu Paulina, sebab kami berdua sudah 3 periode bergabung dalam kepengurusan partai,” jelasnya.

Setelah dua nama itu diusulkan, jelasnya, DPP meminta untuk mengirim semua nama anggota fraksi, termasuk Edi Endi.