”Tidak berpengaruh sama sekali. Kita sudah perintahkan untuk bongkar dan segera perbaiki kembali,”ujarnya.

Anwar menampik kerusakan oprit itu terjadi karena perencanaan yang salah. Kondisi tersebut, kata dia, terjadi akibat curah hujan.

“Kita sudah antisipasi saat perencanaan,tetapi curah hujannnya tinggi dan meresap ke dalam,sehingga mengakibatkan retak dan patah,”tandasnya.

Menurutnya, saat PHO beberapa waktu lalu, kondisi retak itu belum ditemukan. Namun, hujan yang terjadi setelah PHO pada 16 Desember itu, menurutnya menjadi penyebab timbulnya keretakan pada oprit.

Ia juga melemparkan kesalahan pada kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut.

“Itu kesalahan pelaksanaan sebetulnya, kita takut berdampak lebih besar, makanya kita perintahkan pihak kontraktor segera kerja ulang,”ujarnya.

Meskipun masih ditemukan adanya keretakan, menurutnya jembatan tersebut akan segera dioperasikan.

“Jembatan akan segera digunakan,sambil menyuruh kontraktor menyelesaikan,guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,”sambungnya.

Sumber dana untuk mengerjakan jembatan tersebut dari APBN. Menurut Anwar, proyek jembatan Wae Bangka ini dikerjakan dalam satu paket dengan  jembatan Wae Kalo di persawahan Lembor dan jembatan Nggorang. Total anggaran untuk tiga jembatan ini Rp 9 miliar.

Namun, informasi yang dihimpun Floresa.co, dana Rp 9 miliar itu hanya untuk proyek jembatan Wae Bangka. Sedangkan, dana untuk jembatan Nggorang dan Wae Kalo, masing-masing Rp 6 miliar.

”Yang bilang biaya untuk 3 jembatan, Rp 9 miliar itu, tidak benar,”bisik seorang sumber. (Ferdinand Ambo/PTD/Floresa)