BerandaARTIKEL UTAMAKonflik Pasca Pilkada

Konflik Pasca Pilkada

Oleh: WILIBRODUS HARUM

Proses pemungutan suara dalam Pilkada serentak di seluruh Indonesia sudah berakhir. Sekarang, sedang digelar proses rekapitulasi.

Meski belum ada pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), di beberapa daerah kita telah menyaksikan konflik dengan pihak penyelenggara karena ada kandidat yang merasa dirugikan.

Dengan dalih ada kecurangan, konflik pun tak terhindarkan. Penyelenggara Pilkada selalu menjadi korban amukan massa.

Padahal, sudah ada mekanisme hukum yang tersedia, jika ditemukan  ada indikasi kecurangan, baik yang lakukan oleh penyelenggara maupun oleh lawan politik.

Pilkada memang selalu menyisakan konflik. Hal ini terjadi karena masing-masing kandidat hanya siap untuk menang dan tidak mau menerima kekalahan.

Terlebih lagi, jika biaya politik yang dikeluarkan terlampu mahal. Mulai dari peminangan partai politik sampai pada batas akhir kampanye adalah proses yang rumit dan panjang.

Maka, tak heran jika ada orang berselorohan “Pilkada adalah pertarungan mati dan hidup”.

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

“Pariwisata Holistik” Keuskupan Ruteng: Antara Kata dan Perbuatan

Keuskupan Ruteng sedang gencar mensosialisasikan konsep pariwisata holistik. Bagaimana sikap Keuskupan Ruteng terhadap sejumlah persoalan krusial yang dinilai berlawanan arah dengan prinsip pariwisata holistik itu?

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Motang Rua: Kisah Heroik Pahlawan Manggarai (1)

Floresa.co - Nama Motang Rua, yang lahir tahun 1860, sudah tak...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...