Aksi unjuk rasa di Satar Mese, Kamis (10/11/2015), yang berbuntut pada penghentian proses rekapitulasi suara di tingkat kecamatan.

Ruteng, Floresa.co – Pihak keamanan dari Polres Manggarai-Flores, NTT diingatkan agar bekerja profesional dalam melakukan penjagaan aksi protes sejumlah warga Kecamatan Satar Mese yang berlangsung sejak Kamis kemarin hingga hari ini, Jumat (11/12/2015) di depan kantor camat di Iteng.

Inosensius Fredi Mui, anggota DPRD NTT mengatakan, aksi protes warga menolak dugaan sejumlah pelanggaran dalam Pilkada Manggarai pada 9 Desember lalu merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang wajib dihargai.

Karena itu, ia mengingatkan agar pihak keamanan tidak melakukan tindakan represif terhadap warga dan hendaknya terus bekerja menjaga secara profesional.

Apalagi, kata dia, jika pihak keamanan ikut menyetujui bahwa pleno di tingkat PPK Kecamatan Satar Mese akan dipindahkan ke kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Manggarai di Ruteng seperti kabar yang berkembang sejak semalam tersebut.

“Saya minta polisi hanya mengamankan saja. Jangan ikut mendukung agar perhitungan pleno di KPUD Manggarai. Karena bisa repot itu,” tegas Inosensius kepada Floresa.co, Jumat (11/12/2015).

Sebelumnya dikabarkan, Rapat pleno rekapitulasi suara di Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (10/12/2015) terpaksa dihentikan setelah ratusan warga menggelar protes di luar kantor camat.

Puluhan massa yang menamakan diri Forum Peduli Masyarakat Pilkada Manggarai berteriak meminta agar pleno rekapitulasi suara dihentikan karena berbagai alasan.

Fabianus Apul, ketua forum itu dalam orasinya menuding adanya upaya memboikot C6 atau surat panggilan untuk pemuntungan suara secara sistematis oleh pihak tertentu.

“Ini skenario busuk, ada upaya merusak Pilkada. Banyak warga yang tidak diberi C6,” ujarnya.

Mereka pun meminta agar pihak penyelenggara Pilkada segera mengeluarkan surat panggilan agar warga yang tidak mencoblos segera memberikan hak suaranya.

Aksi berakir mereka yang dijaga ketat polisi berakhir sekitar pukul 19.30 Wita.

Dalam pleno, Fansi Wugut, saksi pasangan calon Herybertus GL Nabit-Adolfus Gabur (Hery-Adolf) memilih meninggalkan ruangan, karena menilai banyak persoalan terjadi, termasuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang tidak mencakup seluruh masyarakat yang mempunyai hak politik.

“Banyak kejanggalan yang terjadi. Makanya kita hentikan pleno dan saya keluar,” ujarnya.

Merespon situasi ini yang kian memanas, Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Satar Mese, Turibius Arakate, pun memutuskan menghentikan proses rekapitulasi, hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

“Kami hentikan pleno secara paksa karena situasi tidak kondusif,” katanya.

Pleno, kata dia, baru akan dilanjutkan setelah pihaknya melakukan koordinasi dengan KPU Kabupaten Manggarai.

Hasil kordinasi dengan KPU, jelas Arakete, akan disampaikan kepada masyarakat dan forum yang menggelar unjuk rasa. (Ardy Abba/PTD/Floresa)