Oleh: TARSY ASMAT

Fidelis Honto (20) mahasiswa asal Hawe, Lenga Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat (Mabar) baru semester lima di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Malang.

Pada 14 November lalu, ia meninggal karena dikeroyok oleh kawan-kawannya sesama mahasiswa dari Kota Komba, Manggarai Timur (Matim).

Peristiwa naas itu memupus mimpi dan harapan keluarga Fidelis.

Tidak bisa dibayangkan reaksi keluarga yang hanya tahu bahwa anaknya pergi kuliah di tanah Jawa tetapi mendadak mendengar kabar ia meninggal.

Fidelis ingin merajut masa depan yang baik di tanah Jawa. Namun, apa daya, justru mautlah yang mengakhiri semua mimpinya.

Fenomena perkelahian, tawuran, pembunuhan sering kali terjadi di antara mahasiswa asal Indonesia Timur.

Kota Malang selalu dikagetkan oleh aksi-aksi nakal para mahasiswa yang asal luar Malang ini.

Miris rasanya, ini terjadi di kalangan mahasiswa yang notabene secara usia bukan remaja lagi dan mengenyam pendidikan tinggi.

Semestinya mereka berkelahi dengan buku-buku, teori-teori dan kajian-kajian ilmiah sehingga daerahnya maju. Namun. sebaliknya, justru mereka sering beradu jotos, mabuk-mabukan di jalan raya.

Persoalan tawuran sebenarnya sangatlah sepele, diantaranya ialah persoalan pacaran dan persoalan sepak bola.

Kasus yang merenggut nyawa Fidelis juga diduga punya kaitan dengan sepakbola yang menjadi salah satu hiburan mahasiswa dari daerah di Kota Malang.

Watak Primordial

Mahasiswa asal Manggarai tidak sedikit di Kota Malang, sekitar ribuan jumlahnya.

Dari kuantitas mereka, patut dibanggakan karena dapat memberikan harapan peningkatan SDM daerahnya.

Mayoritas dari mereka belajar di kampus swasta. Hanya sedikit orang saja yang kuliah di kampus negeri.

Selain itu, para mahasiswa/i asal Manggarai ini cendrung membentuk organisasi yang berwatak primordial, berdasarkan suku atau kecamatan.

Para mahasiswa Manggarai kebanyakan masuk dalam organisasi primordial ini.

Organisasi promordial hanya sebagai wadah guyup belaka, tempat kerumunan massa, tidak punya visi misi yang jelas dan prospeknya juga nihil.

Organisasi-organisasi itu tidak mengembangkan aspek-aspek yang menunjang demi perkembangan diri mereka sebagai tumpuan masa depan daerah.

Organisasi-organisasi kecamatan seringkali mengorganisir kegiatan yang sifatnya rekreasional saja, seperti turnamen sepak bola antarkecamatan dan pesta syukuran wisuda. Di luar itu, para mahasiswa kebanyakan pasif.

Namun kegiatan rekresional ini justru tidak menjadi hiburan yang sesungguhnya. Pertandingan sepakbola menjadi ajang kompetisi kegilaan atau depresi kolektif.

Yang dimaksud dengan depresi kolektif ini adalah orang yang secara tidak sadar mewujudkan kegilaannya dalam krumunan sesama.

Contoh verbalnya, orang yang cendrung menceritakan kehebatan berkelahinya, tetapi sebenarnya ia tidak bisa jika tidak berkelompok.

Dengan demikian, sepakbola bola yang menendang bola untuk menghibur menjadi tontonan keadaan asali, potret kegilaan, manusia-manusia yang sudah lama represif.

Maka tidak heran, dimana-mana turnamen Manggarai diselenggarakan, disitu pasti ada konflik, ada perkelahian.

Bias dari Konflik Nilai

Mahasiswa dari daerah ini berhadapan dengan budaya yang lain sama sekali yaitu budaya kota yang cendrung individualis dan ekspresif.

Konteks seperti ini membuat para mahasiwa dari daerah bingung, mau mengikuti trend atau nilai-nilai adat kedaerahaannya.

Seringkali kita mengamati konflik itu terjadi. Kebanyakan dari mereka, tidak mampu mengasimilasi adat istiadat di daerah dimana mereka sekarang berada.

Mereka tersisihkan baik dari segi gaya hidup maupun merasa kalah bersaing, apalagi wawasan nusantara dan pemahaman serta pengamalan Pancasila mereka nol, menjadi semakin runyam.

Karena dari sananya, wadah kultural mereka yaitu ikatan ke daerahan, maka salah satu ruang untuk ekspresi diri adalah organisasi primordial ini.

Di organiasi primordial mereka lebih leluasa mempraktekan kekampungan mereka, bisa mamuk-mabukan, judian dan sebagainya.

Tugas perkuliahan hanya dilihat sebagai tindakan formal antara mahasiswa dan kampus. Di luar itu, kemampuan beradaptasi, membaur dengan masyarakat dari daerah lain, sangat lemah.

Maka kematian Fidelis bukan perkara kejahatan belaka, tetapi persoalan yang mencakup potret mahasiswa Manggarai yang tidak mampu mengasimilasi budaya Jawa, lemah beradaptasi sehingga cenderung untuk terkurung dalam komunitas primordialnya.

Semoga pelakunya dihukum seberat-beratnya dan keluarga lain lain menahan diri untuk tidak menciptakan kematian-kematian yang lain, sebab kasus ini sudah sangat memalukan daerah Manggarai.

Ase kae, nuk pesan de ende ema e du pung lako pala, neka sara ru, neka nggopet, dia-dia agu hae ata. (Saudara/i ingat pesan orang tua saat hendak merantau, jangan berbuat sesuka hati, jangan berdusta dan bersahabatlah dengan orang lain)

Rest in Peace, untuk adikku Fidelis. Semoga engkau tenang di surga.

Penulis asedang studi magister di Sekolah Tinggil Filsafat dan Teologi Widya Sasana Malang