Wisatawan sedang menikmati salah satu karya pelukis muda Mateus Zakeus yang dipajang dalam pameran "A Walk To Remember" di Restoran Three Top, Labuan Bajo 28 Oktober - 10 November.

Floresa.co – Menjadi kota seni tidaklah mustahil bagi Labuan Bajo. Di ibukota Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, kini, sedang menggeliat berbagai aktivitas seni.

Baru-baru ini, kelompok anak-anak muda menggelar sebuah pameran lukisan dan pentas seni, bertajuk “A Walk To Remember.”

Karya tiga pelukis muda, Mateus Zakeus, Jovially Satriano Valentino dan Gun Fals menjadi sajian utama yang dipajang di lokasi penyelenggaraan acara, Restoran Three Top.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Rabu, 28 Oktober. Setiap malam Minggu selama dua Minggu berturut-turut, pada 1 November dan 7 November, diadakan pementasan seni, yang kemudian ditutup pada Selasa malam, (10/11/2015).

Selama kegiatan berlangsung, berbagai kelompok anak muda dilibatkan, antara lain Komunitas Bolo Lobo dan Band GOS (Gallery of Stars) yang digawangi oleh anak-anak SMA Negeri 2 Komodo.

Selain itu, beberapa orang tampil secara individu untuk bernyanyi dan bermain gitar, beberapa di antaranya adalah Fuad, Gary Gajeng dan Santi.

Acara lain adalah pertunjukkan teater, puisi, pantun dan monolog yang dinamakan  Joak de Lawa, di mana setiap  orang bisa berorasi dan menyampaikan idenya secara kreatif.

“Saya sangat senang melihat banyak anak muda yang berkreativitas. Mimpi saya, suatu saat, Labuan Bajo menjadi kota seni,” begitu kata Mateus Siagian, pemilik Three Top  dalam acara penutupan Selasa malam.

Pameran Seni 

Mateus Zakeus, koordinator umum acara ini menegaskan, salah satu cara memperkaya kota Labuan Bajo adalah dengan menampilkan lebih banyak karya seni dan menghidupkan kreativititas anak muda.

“Ingin sekali ini menjadi kota seni” ujarnya.

Menurutnya, menjadikan Labuan Bajo sebagai kota seni memberikan banyak keuntungan.

Hal itu akan mengubah ruang fisik dan sosial kota. “Anak muda tidak dikenal lagi hanya sebagai tukang minum, tapi akhirnya lebih banyak bergerak di bidang seni,” katanya mencontohkan.

Dengan terselenggaranya acara ini, lanjutnya, mulai terlihat munculnya berbagai macam ekspresi baru dan keterlibatan semakin banyak orang.

Ekspresi baru itu terlihat dalam acara Joak de Lawa. 

Meskipun muncul secara spontan, acara yang menyerupai stand-up comedy ini mengundang gelak tawa.

Salah seorang “komik” misalnya mengatakan, “Di Labuan Bajo, banyak kampung menggunakan nama air. Ada Wae Mata, Wae Bo, Kampung Air, Wae nali, Air Kemiri, tetapi di sini justru terjadi krisis air parah. Lucu’ kan?”

Bersyukur atas semuanya itu, Teus mengatakan, “melalui acara ini, kita saling mengenal dan menampilkan sesuatu yang baru.”

Ia berharap suatu saat Labuan Bajo dikenal sebagai kota seni sebagaimana Yogyakarta dan Bali.

Sarat Pesan Sosial

Sebagian besar tema lukisan dan acara menampilkan kritikan sosial. Lukisan pohon tiga dimensi  dari Mateus Zakeus, misalnya, sarat dengan pesan. Di sana tertulis, “Jangan bunuh aku!”.

Lukisan dari Rinho Jovially menampilkan lukisan wanita telanjang. Menurutnya, budaya Manggarai paling sering menelanjangi wanita. Wanita terbebani berbagai macam urusan.

Dua buah lukisan karya Rhino Valentino
Dua buah lukisan karya Rhino Valentino

Demikian pun lagu-lagu, teater, dan puisi. Hampir semuanya menampilkan seruan sosial.

Ada beberapa pengunjung asal mancanegara yang menyaksikan acara tersebut.

Selasa malam, beberapa wisatawan asal Spanyol tak henti-hentinya memberikan apresiasi terhadap beberapa karya seni tersebut.

Pada acara pembuka, 28 Oktober lalu, Khainga O’ Okwmba, jurnalis media The Star, meliput acara tersebut, saat itu ia dan rombongan wartawan internasional lain sedang dalam agenda media tri” yang disponsori oleh Kementerian Parawisata guna mempromosikan pariwisata di Labuan Bajo.

“Tentu, kita semua berharap, bukan hanya kekayaan alam yang ditawarkan sebagai ikon parawisata di Labuan Bajo, melainkan karya seni dan kreativitas yang tumbuh di dalamnya,” harap Rhino. (Gregorius Afioma/ARL/Floresa)