BerandaPERISTIWASidang Agung Gereja Katolik...

Sidang Agung Gereja Katolik ke-4 Dibuka Hari Ini

Floresa.co – Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) membuka Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) ke-4 pada hari ini, Senin (2/11/2015).

Sidang ini yang berlangsung di Cimacan, Bogor, Jawa Barat akan berakhir pada Jumat mendatang, 6 November.

Pastor Hibertus Hartana MSF, sekretaris eksekutif Komisi Keluarga KWI mengatakan, SAGKI ini dengan tema “Keluarga Katolik: Sukacita Injil; Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang Majemuk,” akan menekankan pentingnya keluarga-keluarga Katolik sebagai sel dasar Gereja dan masyarakat.

“Sebagai sel dasar Gereja dan masyarakat, tentu saja kualitas keluarga yang baik itu akan sungguh-sungguh menentukan juga kualitas Gereja dan masyarakat. Maka ada istilah yang namanya keluarga retak (maka) masyarakat rusak,” katanya dalam konferensi pers akhir pekan lalu, sebagaimana dilansir Indonesia.ucanews.com.

Selain itu, lanjutnya, keluarga-keluarga Katolik mendapat perhatian khusus dalam SAGKI IV karena tiga peristiwa besar yang terjadi dalam dua tahun terakhir ini juga menekankan pentingnya keluarga-keluarga Katolik.

Ketiga peristiwa besar tersebut adalah Sinode Luar Biasa Para Uskup yang digelar di Vatikan pada Oktober 2014, Pertemuan Dunia tentang Keluarga yang diadakan di Philadelphia, Amerika Serikat, pada September 2015 dan Sinode Biasa Para Uskup yang dilangsungkan di Vatikan pada Oktober 2015.

“Jadi fokus pastoral dari Gereja universal itu sungguh-sungguh luar biasa memberikan perhatian pada keluarga. Maka ini kemudian bisa kita maknai juga, bisa kita maklumi juga mengapa Gereja Katolik Indonesia pada sidang sinode tahun 2014 memutuskan tema SAGKI itu tentang keluarga,” katanya.

Dari 37 keuskupan di Indonesia, masing-masing mengirimkan satu delegasi beranggotakan 10 orang.

“Jadi metodenya adalah pertama-tama kita ingin mengundang keluarga-keluarga untuk berbicara. Maka kesempatan banyak itu kita berikan kepada keluarga-keluarga. Mereka tahu apa yang menjadi persoalan pergulatan hidup mereka,” jelasnya.

Kemudian, katanya, “kita merefleksikan bersama berbagai persoalan yang berkembang ini, bagaimana kita sebagai sebuah keluarga besar Katolik – Gereja Katolik – membuat sebuah kebijakan, arah bersama, gerak pastorak bersama untuk membangun, membuat keluarga-keluarga Katolik itu lebih baik.”

Menurut Ketua Komisi Keluarga KWI Mgr Fransiscus Kopong Kung, SAGKI IV merupakan kesempatan yang istimewa bagi para pemimpin Gereja untuk mendengarkan umat Katolik di Indonesia.

“Dengan tema keluarga, ini kesempatan Gereja, kesempatan para pemimpin Gereja untuk mau mendengarkan keluarga, mendengarkan cerita-cerita dari keluarga, mendengarkan sharing-sharing keluarga, juga mendengarkan harapan-harapan dan tentu saja mendengarkan perjuangan hidup, kesulitan-kesulitan, tantangan-tantangan yang dihadapi oleh keluarga,” kata uskup Larantuka tersebut saat konferensi pers.

Ia juga menyarankan agar Gereja Katolik hendaknya bersyukur kepada Tuhan karena mereka melihat keluarga sebagai sebuah anugerah istimewa dari Tuhan bagi Gereja dan masyarakat. “Ini yang patut disyukuri,” lanjutnya.

Prelatus itu juga berharap agar lembaga-lembaga pemerintah memberi perhatian serius kepada keluarga-keluarga karena keluarga-keluarga mempunyai peran penting dalam masyarakat.

Sementara itu, Ketua Presidium KWI Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo menekankan bahwa keluarga merupakan tempat di mana masing-masing anggotanya bisa berkembang menjadi pribadi yang semakin matang, dewasa dan berwatak mulia.

“Saya kira tidak ada yang tidak setuju kalau saya mengatakan itu. Itu semua bagus, sangat ideal,” katanya saat konferensi pers.

Namun ia mengingatkan bahwa realitas hidup berkeluarga yang juga berkaitan dengan hidup perkawinan seringkali jauh dari ideal.

“Nah, Gereja mau masuk ke situ. Artinya Gereja menawarkan pendampingan-pendampingan bagi keluarga-keluarga, khususnya keluarga-keluarga Katolik tentu, (untuk) berbicara mengenai best practices: bagaimana keluarga-keluarga itu saling mendukung, saling meneguhkan dan menjadi keluarga yang sungguh-sungguh ideal,” lanjut uskup agung Jakarta tersebut.

Pesan Sinode Biasa Para Uskup

Berbicara kepada ucanews.com seusai konferensi pers, Mgr Suharyo mengatakan bahwa hasil Sinode Biasa Para Uskup juga akan disampaikan dalam SAGKI IV.

“Intinya begini, Paus itu berkali-kali mengatakan (bahwa) setiap orang, setiap pribadi, siapa pun dia – orang-orang yang bercerai kah, homoseksual kah – adalah pribadi-pribadi yang harus dihormati. Jangan dipinggirkan. Kecenderungan dari lembaga-lembaga agama adalah meminggirkan orang-orang yang mereka sebut jahat,” katanya.

“Itu seperti orang cerai. Itu kan tidak ideal. Paus mengatakan jangan. Mereka harus didampingi, sejelak apa pun mereka, sejauh apa pun mereka itu yang katakanlah berbeda dengan ajaran Gereja. Mereka mesti didekati, didampingi, kalau perlu dicarikan jalan kalau bisa,” lanjutnya.

Terkait perceraian, Mgr Suharyo menegaskan bahwa perceraian tidak akan pernah diijinkan oleh Gereja Katolik. “Yang dilakukan oleh Gereja itu bukan menceraikan tetapi menganulasi perkawinan,” katanya.

Demikian halnya dengan homoseksual. “Apa ada toh perkawinan sejenis itu?” tanyanya. “Tidak ada. Yang ada hidup bersama sejenis.” (Ucan Indonesia/ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Walhi NTT Ingatkan Pemerintah Berhenti Khianati Mandat Cagar Biosfer TN Komodo

“TN Komodo yang telah berjalan 42 tahun gagal untuk menjalankan tiga mandat utama cagar biosfer yakni pelestarian keanekaragaman hayati/satwa, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan mekanisme ekonomi ramah lingkungan dan berkeadilan dan pemuliaan kebudayaan rakyat,” kata Walhi NTT

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Potret Sejarah Manggarai dalam Sejarah Nusantara: Sebuah Studi Literatur

Catatan editor: Tulisan ini merupakan karya dari Vianney Andro Prasetyo, seorang...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.