BerandaARTIKEL UTAMABupati Tote Didesak Segera...

Bupati Tote Didesak Segera Atasi Krisis Air Minum Bersih

Floresa.co – Bupati Manggarai Timur (Matim) – Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) Yoseph Tote didesak mengambil langkah cepat untuk mengatasi krisis air minum bersih, terutama yang menimpa Borong, ibukota Matim.

Desakan itu disampaikan ole Mensi Anam, Ketua Fraksi Partai Hanura di DPRD Matim dalam keterangan tertulis kepada Floresa.co, baru-baru ini.

Menurut Mensi, sudah tiga minggu air minum bersih tidak lagi mengalir di dalam pipa di jalur Kembur, Peot, Jawang dan Toka.

Ia menjelaskan, akar persoalan ini bukan pada debit air yang berkurang, tetapi masalah koordinasi antara Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) SPAM serta masalah sosial yang belum diatasi secara tuntas oleh pihak Pemda Matim.

“Saya minta kepada Bupati Yoseph Tote, segera atasi dua masalah ini. Warga ibukota selama ini sudah hampir menikmati air secara reguler. Namun, begitu gampang sirna karena dua hal yang menurut saya tentu sepele,” kata Mensi.

Solusinya, kata dia, Tote harus segera memantapkan kordinasi internal antara PU dan BLUD SPAM.

“Dan bupati juga turun gunung untuk atasi masalah sosial di mana terdapat area lintasan pipa yang bermasalah dengan warga. Kunjungi mereka dan beri mereka pengertian dan kesadaran,” tegasnya.

Mengunjungi langsung warga, kata Mensi, menjadi mutlak untuk mengatasi masalah ini.

Ia meminta Tote belajar dari Presiden Jokowi yang baru-baru ini mendatangi lokasi kebakaran hutan di Sumatera.

“(Bupati Tote) mungkin bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jokowi,” katanya.

Mensi juga meminta agar mobil tangki air milik Pemda yang ada di Dinas Sosial dipinjam pakai ke BLUD SPAM untuk mendistribusikan air saat air minum bersih tidak lagi tersedia.

“Jangan mempersulit hal yang gampang,” katanya.

Menurut Mensi, sungguh ironis, bahwa di ibukota kabupaten tidak tersedia air minum.

“Apalalagi untuk Borong, mengingat beberapa sumber mata air besar ada di posisi elevasi lebih tinggi dari Borong. Artinya pakai bambu sekalipun, air dapat mengalir menuju Borong,” tegasnya. (Ari D/ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Surat Domba untuk Gembala: Bapa Uskup, Akhiri Penderitaan Gereja dan Umat Keuskupan Ruteng

Floresa.co - Polemik di Keuskupan Ruteng yang memanas setelah pada pertengahan Juni...

Sudah Seharusnya Cara-cara Represif Ditinggalkan

Seharusnya polisi bisa bertindak lebih bermartabat dari sekadar mendaur ulang cara kekerasan. Pelaku wisata dan warga bukan musuh, apalagi mereka hanya ingin menuntut haknya. Menabur benih kekerasan hanya akan menuai konflik berkepanjangan.