BerandaPILIHAN EDITORGelar Rembug, Masyarakat Adat...

Gelar Rembug, Masyarakat Adat Pubabu-Besipae Bahas Sistem Pengelolaan Lahan

Masyarakat adat Pubabu-Besipae dalam salah salah satu pertemuan di tenda di lahan yang kelolah. (Foto: Walhi NTT)
Masyarakat adat Pubabu-Besipae dalam salah satu pertemuan di tenda di lahan yang mereka kelolah. (Foto: Walhi NTT)

Besipae, Floresa.co – Masyarakat Adat Pubabu – Besipae, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar rembug selama 3 hari, yang dimulai hari ini, Sabtu (8/8/2015) hingga Senin (10/8/2015) mendatang.

Dalam acara ini, mereka membahas berbagai hal terkait pengelolaan pertanian, peternakan, sampai pada beberapa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah (Pemda), khusus terkait pengelolaan hutan di lahan yang kini mereka kelolah.

“Rembug masyarakat adat ini merupakan momentum tepat untuk mengevaluasi terkait model dan perkembangan pengelolaan pertanian dan peternakan yang selama ini dilakukan di Pubabu – Besipae,” kata Imanuel Tampani, Ketua Ikatan Tokoh Adat Penegak Kebenaran dan Keadilan (ITA PKK).

Khusus soal pengelolaan pertanian, fokus pembicaraannya terkait pengelolaan pertanian di kawasan hutan adat Pubabu yang sudah dan sedang dijalankan masyarakat setempat.

“Kita akan mengevaluasi berbagai kekurangan dan kelebihan terkait sistem pertanian di kawasan hutan dalam hubungannya dengan eksistensi hutan adat itu sendiri,” kata Tampani.

Ia menambahkan, “kekurangan atau kelemahan itu menjadi fokus pembicaraan untuk secara bersama-sama mencari solusi.”

Kegiatan ini akan dihadiri beberapa kelompok lembaga swadaya masyarakat (LSM), Organisasi Mahasiswa (Ormas), para kepala suku dan masyarakat setempat.

Anggota dewan adat ITA PKK, Niko Manao, menyatakan, rembug ini juga akan membicarakan serius organisasi rakyat ITA PKK yang memayungi seluruh masyarakat Pubabu – Besipae selama ini.

“Dalam rembug masyarakat adat ini juga dibahas soal urusan pergantian kepengurusan ITA PKK yang berakhir pada Agustus 2015 ini dan rencana kerja kepengurusan baru,” kata Niko.

Niko berharap, rembug ini menjadi langkah awal yang baik untuk masyarakat adat agar bisa saling mengevaluasi demi kebaikan dan keberlangsungan hidup dalam komunitas. (Menar Lejek/ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Tanggapi Mogok Massal di Labuan Bajo Lewat Himbauan di Medsos, Menteri Pariwisata Dikritik Keras

“Pak @Saindiuno, yang terjadi di L Bajo, pemerintah pakai dalih konservasi, itu pun tidak masuk akal, padahal sebenarnya mau invasi investasi ke TNK. Jangan tipu masyarakat...”

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....