Oleh: AGUSTINUS DAWARJA

Pak Ben….
Pertama kali aku berjumpa denganmu di tahun 82-an
Saat itu aku masih sekolah menengah di Seminari Kisol
Kau datang bersama Ibu Nafsiah
Tak ada kesan luar biasa saat itu
Kau gubernur dan aku anak SMP
Tahun 90-an
Aku bertemu lagi denganmu
Dalam sebuah diskusi di sebuah hotel yang bernama Hotel Wisata
Hotel itu kini telah tak ada dan telah dibangun Grand Indonesia
Aku mulai tertarik berdiskusi denganmu
Kita bertukar nomor telepon
Saat itu aku menjadi moderator sebuah diskusi tentang Flores
Aku tertegun atas perhatianmu pada saya yang masih muda
Ada banyak pertemuan
Tak lupa aku menegur dan mendengar pikiranmu
Semangat juangmu tak luntur
Suatu ketika
Seorang Jenderal meninggal
Aku memberikan kabar padamu
Pak Ben…kau pun datang melayat hingga pemakaman di Kalibata
Dalam memoar tulisanmu tentang sang jenderal, kau berkisah
Kau bertemu sang Jenderal di airport
Siap jadi gubernur?
Jawabmu siap dan kau pun menjadi gubernur
Saat berangkat tak ada uang di tanganmu
Kau datang dan Sang Jenderal memberimu Rp10 juta untuk keperluan pribadimu
Saat kau tiba di Kupang…pulau berbatu yang bertanah itu
Kau datang ke pasar-pasar dan kampung nelayan
Rasa ibamu melebihi kemampuanmu
Kau bagikan uang Rp 10juta dan habis semuanya dalam dua hari
Kau laporkan…..”Uangnya sudah habis Jenderal,” katamu
Sang Jendral hanya diam……
Yang kutahu kemudian
Visimu tentang ONH (Operasi Nusa Hijau) – Operasi Nusa Makmur (ONM)
Pisang kepok ditanam dimana-mana
Jagung ditanam dimana-mana
Lamtoro gung ditanam dimana-mana
Sawah dibangun dimana-mana
Aku ingat…Indonesia pernah swasembada beras
Jelas sekali apa yang kau telah lakukan
Yang mengherankan saya
Kau tak memiliki rumah mewah, entah di Ruteng atau Jakarta
Aku ingat kau tinggal di rumah dinas kemiliteranmu
Beruntung ada saudara-saudara pencinta pejuang
Hingga kau memiliki rumah dimana kau bersemayam
Wajahmu selalu berseri ketika kau bercerita tentang Nusantara
Garangmu sangat jelas ketika bicara tentang kepemimpinan
Garangmu begitu meyakinkan ketika bicara tentang korupsi
Kau hampir sempurna
Pikiranmu dan alur berpikirmu Jelas
Tak perlu menjadi prof atau doktor untuk menjadi cerdas memang
Saat terjadi konflik di sebuah wilayah
Aku memintamu untuk menjadi mediator
Rupanya kau diam-diam telah mencoba
Kau memintaku untuk menghubungi orang-orang yang menurutmu bisa
Rasa cintamu pada negara
Rasa cintamu pada rakyat
Rasa cintamu pada agama
Semuanya total
Tak luntur sedikit pun
Kursi rodamu
Tak menghambat pikiran bernasmu
Tongkatpun kau ambil hanya datang berdiskusi soal-soal kebangsaan
Pak Ben
Aku rindu pemimpin sepertimu
Jarang kami temukan lagi
Tak banyak…meskipun beberapa sudah mulai nampak
Genuiniti pikiran dan sikapmu sangat jelas
Dunia beruntung kau pernah dilahirkan
Terberkatilah kandungan tempat dimana kau dilahirkan
Terberkati pula keluargamu..Ibu Naf dan anak-anak serta cucu-cucumu
Cum Laude untuk hidupmu
Terlalu sulit untuk menjadi dirimu
Aku hanya heran
Ternyata bangsa Manggarai pernah memiliki manusia cerdas sepertimu
Tindakan dan kebijakanmu selalu strategis dan bukan mengawang-awang
Jelas Pak Ben telah lulus dengan Cum Laude hidupnya
Selamat jalan Pak
Seandainya kami bisa belajar dan menjadi sebagian dirimu saja
Negeri ini pastilah bangsa yang besar
Terimakasih…karena kau telah memberikan pelajaran bagi kami.
Salam Hormat saya
Doakan kami agar bisa melanjutkan perjuanganmu
Tak ada selamat jalan Komandan
Berpikir cerdas dan Bertindak Strategis
Itulah sebagian yang aku pahami tentangmu
Jujur dan kerja keras…belajar tak pernah henti

 

Jakarta, 23 Juni 2015

Agustinus Dawarja adalah Advokat asal Manggarai.