Viany Cembes Nai
Viany Cembes Nai
Viany Cembes Nai
Menggantikan peran kedua orangtua adalah kenyataan yang kini dilakoni Maria Flaviani Cembes Nai.
Gadis asal Karot, Ruteng kelahiran 5 Oktober 1995 ini harus menghadapi pengalaman pahit di usianya yang masih belia: ayahnya meninggal pada 2013 silam, dan setelahnya, ibunya juga pergi untuk selamanya pada Januari 2015 lalu. Tak mudah bagi mahasiswa Universitas Nusa Cendana ini menerima fakta demikian.
Namun, itu tak membuatnya lari dari kenyataan. Puteri dari Almarhum Geradus Taik dan Almarhum Valentina Nurlina ini memilih untuk merawat harapan agar bisa bangkit. Yang ia pikirkan saat ini, bisa kuliah, sambil berusaha mendapat uang di kota Kupang agar bisa disisihkan untuk adiknya di Ruteng.
Ia menyebut pengalaman kehilangan membuatnya terpukul, tapi tidak membuat sampai menyerah pada keadaan. Mahasiswa semester IV,  jurusan FKIP Sejarah ini mengatakan, “ibarat rotan, saya tidak patah, tetapi cuma melengkung sedikit.”
Anny memutuskan membagi pengalaman pergulatannya di Floresa.co, dengan harapan ini bisa menggerakan orang lain yang menghadapi pengalaman serupa untuk bisa bangkit dan menatap masa depan dengan sikap optimis.

 

Kenangan manis itu tidak akan pernah kembali. Waktu terus berlalu tetapi aku masih terlarut dalam angan-angan indah itu. Aku belum percaya dengan kenyataan pahit ini. Bagiku hal ini adalah mimpi terburuk dalam hidupku.

Segala sesuatunya telah berubah semenjak kepergian ayah. Ayah yang dulu menjadi spirit hidup kami, ayah yang menjadi tulang punggung keluarga, ayah yang selalu memberikan kehangatan dengan ciri khasnya yang humoris.  Ayah adalah orang terhebat yang pernah kumiliki, tidak pernah mengeluh meskipun penyakit hepatitis B merongrong tubuhnya, tetap bekerja meskipun rasa sakit menggerogotinya.

Sekitar empat bulan lamanya ayah menyembunyikan penderitaan yang dirasakannya. Waktu semakin berlalu dan kulihat kondisi ayah sudah tidak seperti biasa lagi. Kondisi fisiknya melemah dengan wajahnya yang pucat pasi, seakan memikul beban besar. Ia berusaha untuk tetap kuat dan tegar, tetapi  kekuatannya tidak bertahan lama karena suatu hari bertepatan dengan hari pertama aku mengikuti ujian akhir nasional di tingkat pendidikan SMA, ayah masuk rumah sakit umum Ruteng,  Manggarai Tengah. Bingung, rasa tidak percaya, shock, dan rasa sedih bercampur menjadi satu.

Aku diam seribu bahasa, bungkam tidak mampu berkata-kata. Tidak terlintas sedikitpun dalam pikiranku bahwa ayah akan dirawat di rumah sakit. Tidak pernah sedikitpun terbesit dalam anganku bahwa  ayah akan memakai selang infus dan terbaring lemah tidak berdaya. Aku terus dan berpikir, tetapi aku sadar bahwa aku akan mengikuti ujian akhir nasional. Saat itu, saya kerjakan soal-soal ujian dengan penuh kepedihan.  Satu hal yang terlintas dalam benakku, bahwa aku harus lulus ujian agar ayah lekas sembuh.

Setelah ujian aku merawat ayahku di rumah sakit. Kulihat kondisi tubuhnya sangat menyedihkan. Selang infus menutupi hidungnya,  jarum oksigen tertusuk di lengan kanannya. Aku semakin bingung  sebenarnya apa yang terjadi dengan ayah? Ayah sudah semakin sekarat, karena sudah tidak bisa lagi berbicara, tidak bisa lagi berjalan, dan parahnya lagi ayah sudah tidak bisa lagi membuka matanya, yang tersisa hanyalah hembusan nafas yang sangat berarti mengiringi setiap detik tersisa yang sangat menegangkan itu. Hingga pada akhirnya ayah menghembuskan nafas terakhirnya tepat jam 3 pagi pada tanggal 3 Maret tahun 2013. Sedih dan putus asa menyelimuti keluarga kami. Kepergian ayah meninggalkan duka yang mendalam apalagi aku harus meninggalkan mama dan adik-adikku untuk memulai proses perkuliahan di Kupang.

Dua tahun berlalu. Rasa rindu akan belaian kasih sayang ayah masih melekat dalam ingatanku. Aku bertekat untuk membahagiakan mama karena hanya dia satu-satunya orang tua yang kumilikki. Dua tahun aku menjalani rutinitasku sebagai seorang mahasiswa di Universitas Nusa Cendana Kupang, jurusan pendidikan sejarah. Ternyata, dua tahun pula mama menderita sakit karena stres dan frustrasi. Tepat pada awal Januari 2015, aku mendengar kabar bahwa mama dirawat di rumah sakit karena penyakit jantung yang menyerang tubuh kecilnya. Hari-hariku menjadi terasa suram dan terus memikirkan mama, dan dengan penuh kenekatan aku pulang ke Manggarai dan langsung menghampiri  mama di rumah sakit.

Batinku terguncang, sedih rasanya saat pertama kali muncul di pintu rumah sakit dan melihat mama dalam keadaan kritis. Mama menatapku dengan tatapan yang lemah, masih sempat melontarkan senyumannya yang khas. Aku tersentak dan tidak berdaya bahkan  tetesan air mata pun tidak bisa menghilangkan rasa sakit mama. Pedih dan sakit hati saat melihat mama terbaring lemah dan terus histeris  memohon bantuanku.

Aku berdoa dan terus memohon kepada Tuhan berharap keajaiban itu ada. Kondisi mama semakin parah dan aku tidak pernah berhenti berharap, tetapi Tuhan berkehendak lain. Mama pergi untuk selama-lamanya tanpa meninggalkan pesan apapun tepat pada tanggal 21 Januari tahun 2015. Sedih dan putus asa. Tercengang dan bingung harus menyaksikan setiap kepingan hidup yang sungguh sangat memprihatinkan. “Hidup ini kejam, hidup ini tidak adil, hidup ini penuh dengan kepalsuan.” Kata-kata seperti itu yang berkecamuk didalam pikiranku. Seakan kehilangan harapan karena tidak ada lagi tumpuan untuk bersandar.

Apa yang harus kulakukan? Siapa yang akan memperhatikan adik-adikku jika aku kembali ke Kupang dan melanjutkan kuliah? Mengapa harus kami yang mengalami penderitaan ini? Kusadari hidup sebagai anak yatim piatu sungguh sangat menyedihkan. Ditertawakan orang lain karena tidak bisa membeli sepatu baru, dicemooh karena memakai baju kumal dan kusam, mendapat hinaan karena memakai tas yang sama. Apakah semua itu salahku? Teganya mama yang meninggalkan kami dan lebih memilih Papa. Teganya Papa yang pergi dan meninggalkan kami berjuang sendirian. Baru kusadari hidup ini rumit tanpa kehadiran orang tua. Kepada siapa aku harus mengadu? Apa yang harus kukatakan pada adik bungsuku yang baru berusia 3 tahun yang terus mencari Papa dan mama? Bagaimana caranya aku menghidupi keempat adikku sementara aku sendiri belum dewasa dan memahami hidup ini?

Tanpa kusadari adikku yang baru menyelesaikan tingkat pendidikan SMA membuatku semakin tertekan. Aku tersentak dan semakin membenci hidup ini saat kudengar kabar bahwa dia sudah beristri sementara ketiga adikku yang lain masih kecil dan kehilangan kasih sayang. Aku sadar bahwa aku telah gagal menjadi kakak tertua. Keluarga yang kuharapkan selama ini tidak membantuku sama sekali. Janji- janji manis di detik terakhir mama untuk setia merawat kami hanya sebuah perkataan mencoba menenangkan situasi saja. Mungkin sudah saatnya bagi kami untuk tidak memanggil kata papa dan mama karena semuanya sudah berlalu. Pergi dan tidak akan kembali kecuali kenangan indah yang selalu menemani, karena kami belum memahami rumitnya persoalan hidup  ini dan berharap secercah kebahagiaan akan datang di suatu saat nanti.

Kehilangan orang tua sama dengan kehilangan harapan hidup. Mimpi-mimpi kami seakan terkubur bersama kepergian bapa dan mama. Sebagai kakak sulung, beban dan tanggung jawab saya semakin besar, sementara untuk biaya hidup sendiri saja sulit apalagi memikirkan nasib adik-adik saya di Manggarai. Kenyataan ini yang membuat saya semakin berpikir keras dan bertindak besar walaupun saya hanya seorang perempuan kecil yang hidup di tanah rantauan. Kekurangan uang memaksaku  untu berhemat dengan uang beasiswa yang kuterima sekali dalam setahun. Kusadari kebutuhan perkuliahanku sangatlah banyak. Membeli modul dan buku-buku perkuliahan lebih penting daripada membeli obat saat aku sakit, print dan meng-copy tugas perkuliahan jauh lebih penting dibandingkan dengan membeli kacamata minus akibat gangguan mata yang kuderita sejak kecil.

Aku tidak mau putus asa. Bagiku, keputusasaanku justru akan membunuh adik-adik secara berlahan. Jika saya mengeluh kepada siapa lagi adik-adik saya akan mengeluh. Akhirnya, kuputuskan untuk bekerja pada PT MSS, perusahanaan yang bergerak di bidang obat-obatan dengan strategi mencari jaringan, kurang lebih seperti K-Link. Aku tidak berharap banyak dari situ. Setidaknya, 10.000 rupiah setiap hari sudah sangat cukup untuk membayar uang bemo dari rumah yang aku tinggal di Sikumana menuju ke kampus Undana Kupang yang jaraknya cukup jauh. Untuk mendapatkan  uang 10.000 rupiah tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Dengan keterpaksaan aku harus melakukan pinjaman uang meskipun akan mendapatkan banyak cercaan.

Keadaan menyadarkanku untuk menjauhi pesimis. Meskipun aku sedang mengalami kesulitan, aku tidak akan tinggal diam. Aku mengikuti berbagai perlombaan di kampus meskipun kutahu perlombaan tersebut tidak akan menghasilkan uang sama sekali. Aku juga aktif mengikuti organisasi intra dan ekstra kampus meskipun kutahu risikonya aku akan kehabisan uang perjalanan. Pengalaman saya membuktikan justru organisasi mahasiswa yang dapat meringankan beban pikiran dengan berbagai kegiatan di dalamnya.

Di kampus, saya terlibat aktif dalam organisasi jurusan dan Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK). Di luar kampus saya aktif dalam Himpunan Pelajar Mahasiswa Manggarai Timur (HIPMMATIM)-Kupang dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Kupang. Organisasi bagi saya universitas kehidupan, tempat segala macam ilmu dibagikan serta latihan karakter untuk tetap kuat walapun dinamikanya kadang sangat keras. Di tengah kehilangan keluarga, organisasi justru menjadi keluarga baru saya di Kupang. Di sini, saya dapat mencurahkan segala macam pikiran, galau, pupus bahkan tertawa bersama. Semua itu kulakukan karena aku memilikki impian yang besar dan teman-teman di organisasi adalah motivator ulung agar aku kembali bermimpi. Di organisasi aku dilatih untuk dapat memanajemen waktu, tenaga dan uang agar bisa mengikuti semua kegiatan.

“Bermimpilah setinggi langit dan kalaupun terjatuh, kamu akan jatuh di antara bintang-bintang”. Kata mutiara dari Bung Karno ini selalu memberikan harapan  kala aku putus asa. Saya kerap membayangkan perjuangan Bung Karno untuk mengusir penjajah sama denga perjuangan saya sekarang untuk keluar dari situasi yang ‘tidak merdeka’ ini. Bagi saya, memiliki mimpi dan terus berjuang adalah jembatan yang bisa menghubungkan saya dengan kesuksesan. Ketiadaan mimpi berarti ketiadaan harapan, tiada harapan tidak akan ada perjuangan dan tidak berjuang sama dengan menyerah diri dalam jurang kematian. Bagi saya, situasi ini adalah perjalanan dalam sebuah jembatan kehidupan menuju kesuksesan. Selama masih banyak orang yang peduli dengan saya, teman-teman, kerabat, keluarga dan Tuhan, ibarat rotan, saya tidak patah, tetapi cuma melengkung sedikit.