Makasar, Floresa.co – Dimana-mana, di tanah rantau orang Manggarai punya beragam cara untuk mempererat tali persaudaraan.

Setelah dua pekan lalu, warga Manggarai yang tinggal di Jakarta dikabarkan mementaskan tari caci dan danding, di Makassar, Sulawesi Selatan, ada kegiatan lain yang digelar, yakni turnamen sepak bola.

Pada Minggu (7/6/2015) lalu, sekitar 6000-an orang Manggarai yang merantau di Makassar ramai-ramai memadat lapangan sepak bola TNI Armed di Jl Mappoadang, Makassar.

Kehadiran mereka di lapangan itu sejenak melepas lelah dari berbagai rutinitas untuk menyaksikan aksi anak-anak tanah Congkasae mengolah kulit bundar di lapangan.

Sebagian besar peserta turnamen adalah mahasiswa yang sedang menempuh kuliah di beberapa universitas di Makassar, seperti Universitas Satria, Universitas Atmajaya, STKIP Pembangunan, Stikes Gunung Sari, Stikes Mega Rezky, UMI Makassar, Unismuh Makassar dan Universitas Sawerigading.

Turnamen bertajuk “Komodo Cup” itu telah berlangsung sekitar lima minggu, terhitung sejak 3 Mei 2015,

Rencananya, partai final turnamen ini akan berakhir pada 31 Januari 2016.

Komodo Cup telah digelar sejak tahun 2000. Tahun ini  adalah yang ke-12 dan diikuti oleh 36 tim, yang mewakili masing-masing kecamatan di Manggarai Raya.

Nama-nama tim antara lain Persatuan Sepak Bola (PS) Rana Mese, PS Reo, PS Ndoso, PS Elar, PS.Komodo, PS Boleng, PS Cibal, PS Lambaleda, PS Ruteng, PS Welak, PS Rana Mesa, PS Lembor, PS Lelak, PS Borong dan masih masih banyak kesebelasan lainnya.

Di kepanitiann, yang menjabat sebagai ketua panitia adalah Antonius Janur. Sementara sekertaris adalah Yustinus Jawedi, mantan Pembantu Rektor I dan III Universitas Satria Makassar.

Turnamen ini menetapkan peraturan agar tim pemenang akan menjadi panitia pelaksana untuk tahun berikutnya.

Arda Senaman, salah seorang tokoh asal tanah Manggarai di Makasar mengungkapkan, turnamen ini merupakan cara masyarakat Manggarai yang merantau ke Makassar untuk melakukan silahturami.

Arda Senaman
Arda Senaman

“Komodo Cup selain berfungsi sebagai sarana hiburan, juga sebagai silaturrahmi dan mempererat tali persaudaraan”, ujar Senaman.

Setiap tahun, rata-rata 500 orang Manggarai yang merantau ke Makassar. Mereka menyebar hampir di seluruh kecamatan di Makassar serta Gowa, Takalar dan Maros.

Mereka ini didominasi generasi baru Manggarai yang datang ke Kota Metropolitan Makassar menuntut ilmu di perguruan tinggi negeri dan swasta. (Laporan Yahya Mustafa, kontributor di Makassar/ARJ/ARL/Floresa)