OLEH: JUAN UDU OFM

Fakta eksploitasi alam yang kian meluas saat ini patut menjadi perhatian dan  keprihatinan kita bersama. Eksploitasi terhadap sumber daya alam dan penggunaan teknologi mutakhir secara masif dan tak terkendali de facto menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan ekologis. Aktivitas pengeboran dan penggalian barang-barang tambang yang masih ramai saat ini (seperti di NTT, Kalimantan, Papua dan sebagainya), penebangan pohon secara serampangan (illegal logging) dan perambahan hutan secara kolosal merupakan sederet bukti faktual masifnya aksi eksploitataif terhadap alam. Potret ini sekaligus menjadi representasi gamblang bahwa kesadaran ekologis kita masih jauh panggang dari api.

Fenomena ini semakin kita rasakan manakala dampak-dampak krusial dari aktivitas perusakan alam ini mulai timbul. Sebut saja, misalnya, banjir bandang yang seakan menjadi ritus tahunan, tanah longsor, berkurangnya debit air, iklim yang tak menentu (climate uncertainty), kemarau berkepanjangan, dll. Realitas krisis  semacam ini sangat menakutkan karena pasti akan berujung pada krisis (baca: bencana) kemanusiaan. Oleh karena itu, dalam konteks tertentu, krisis ekologi dapat dilihat sebagai ancaman dan resistensi balik alam terhadap kemanusiaan kita. Akan tetapi, perlu diingat bahwa bayangan tragika kemanusiaan ini terjadi pertama-tama bukan karena kekuatan destruktif (destructive power) alam itu sendiri, melainkan karena keteledoran manusia yang memperlakukan alam secara tidak etis dan bertanggung jawab.

Sebagai implikasi lanjutannya, keseimbangan ekosistem bumi juga ikut terganggu. Alam menjadi ringkih. Dalam kondisi akut seperti ini, kesadaran ekologis tentu sangat penting untuk ditumbuhkan. Sebab perlu disadari bahwa problematika ekologi tidak hanya menyentuh kehidupan manusia secara individual, tetapi juga secara kolektif-global sebagai suatu jaringan dan unisitas kehidupan. Karena itu, rekonsiliasi relasi dengan alam merupakan tuntutan aktual dan fundamental demi keberlanjutan hidup manusia dan keseimbangan ekosistem kehidupan.

Rasionalitas Instrumental

Aksi perusakan alam yang kian masif dewasa ini berkelindan dengan rasionalitas modern dan teknologi mutakhir yang secara kasatmata telah merancang suatu skenario eksploitasi alam secara besar-besaran. Hal yang patut disayangkan adalah bahwa bukannya manusia yang menguasai teknologi, tetapi sebaliknya, manusia tunduk di bawah hegemoni dan kendali mesin. Apa lacur, teknologi pun begitu efektif  menjungkirbalikkan konsep-konsep luhur manusia tentang alam: sesuatu yang teratur, utuh dan sakral. Alam tidak lagi dilihat sebagai saudara, tetapi sebaliknya, sebagai objek yang harus diperas, dikeruk habis-habisan dan didestruksi demi urusan perut, profesi, popularitas, dan sebagainya, tanpa mempertimbangan secara kritis dampak ekologis yang lebih luas.

Fenomena semacam ini, dalam mazhab Frankfurt, digambarkan dengan istilah ‘rasionalitas instrumental’. Hal yang ditekankan dalam gaya berpikir dan bertindak rasionalitas instrumental adalah sukses tindakan, entah bagaimana pun caranya, bahkan hingga mengistrumentalisasi hal atau organisme lain. Dalam konteks fenomena krisis ekologi, rasionalitas instrumental ini merujuk pada tindakan instrumentalisasi alam ciptaan untuk kepentingan segelintir orang serakah (oligarki, pengusaha, atau korporasi). Gaya berpikir dan bertindak semacam ini membuat alam diredusir dan dilihat hanya sebagai ‘instrumen’ atau objek, yang dengannya tujuan dan aneka kepentingan primordial manusia kapitalis tercapai.

Namun, menarik bahwa di tengah belitan fenomena krisis seperti ini, alam tidak mau tinggal diam. Alam ofensif dan melancarkan resistensi balik. Alam yang semula adalah sahabat (partner) lantas berubah menjadi ‘monster’ yang menakutkan dan mengancam eksistensi manusia serta menghancurkan ekosistem kehidupan. Banjir, longsor, tsunami, ketidakpastian iklim, hancurnya lapisan ozon, meningkatnya suhu global (global warming) dan sebagainya merupakan bentuk resistensi alam yang nyata. Aneka bentuk resistensi ini menjadi simbolisme tuduhan sekaligus teguran pedas terhadap arogansi, rasionalitas instrumental manusia—yang serentak menunjukkan irasionalitas tindakan manusia itu sendiri—dan “iptek-isme” yang telah memperbudaknya.

Rasionalitas instrumental yang bekerja dalam bidang ekonomi, teknologi dan industri terbukti telah mengobjektivasi dan memorak-porandakan alam. Alam tidak dipandang sebagai subjek hidup, tetapi sebagai objek garapan untuk memuaskan ‘nafsu daging’ manusia. Pelbagai eksperimentasi teknologis yang dilakukan juga terbukti berimplikasi pada terganggunya ekosistim kehidupan dan tata kosmik. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau ekspresi sikap kurang etis dan bijaksana ini lekas membuat alam berang dan kembali menghantam kita (baca: suatu bencana kemanusaan) melalui pelbagai peristiwa bencana alam yang terjadi.

Bencana Kemanusiaan

Amat jelas bahwa aksi perusakan alam membawa pengaruh yang besar dalam pelbagai dimensi dan tata kehidupan. Alam tidak lagi menjanjikan suatu masa depan kehidupan yang baik dan mencerahkan. Malah sebaliknya, alam menjadi scandalum bagi kehidupan manusia. Bencana kemanusiaan tidak hanya terjadi manakala pelanggaran HAM telah menjadi lanskap biasa dalam kehidupan kita atau  ketika peperangan merajalela, tetapi juga ketika alam mengamuk dan merenggut nyawa manusia. Itulah tanda kehancuran eksistensi manusia.

Pada titik ini, manusia sesungguhnya sedang terseret dalam suatu gelanggang dilematis, antara mempertahankan eksistensinya dari ancaman sesama manusia dan ancaman alam. Alam telah menjelma menjadi suatu kekuatan destruktif  yang berusaha mendongkel arogansi dan kemapanan hidup manusia. Alam tengah menebarkan ‘teror global’, bukan dengan kekuatan bom, granat, laras panjang, melainkan dengan kekuatan destruktif alam itu sendiri.

Krisis ekologi patut disebut ‘bencana global’ lantaran persoalan ini tidak hanya dirasakan oleh orang-orang di tempat tertentu saja, seperti di NTT, Kalimanatan, atau Papua, misalnya, tetapi juga dirasakan oleh semua penduduk seantero bumi. Hal ini menunjukkan bahwa keteledoran atau aksi eksploitatif yang kita lakukan di NTT, misalnya, dapat dirasakan juga akibatnya oleh orang-orang di belahan lain bumi ini. Sebagai contoh, menipisnya lapisan ozon, efek rumah kaca (green house effect), meningkatnya suhu global, polusi udara-tanah-air dan sebagainya dirasakan oleh semua penduduk bumi. Sekelebat kenyataan ini mau menegaskan bahwa kerusakan ekologi merupakan suatu bencana (kemanusiaan) global dan berdampak global.

Mari Berbenah

Berjubel fenomena ketidakpastian alam yang terjadi sekarang ini serentak mengajak kita untuk berbenah. Kita semestinya merekonsiliasi relasi kita dengan alam. Sebab sulit dibayangkan kalau alam yang adalah tempat kita hidup telah berbalik mengancam kita, ke mana kita harus berlari? Apakah kita bisa merealisasikan eksistensi kemanusiaan di luar alam—tentu kecuali kalau mati? Apakah masih ada dunia yang mungkin (the possible world) bagi kehidupan?

Dalam bingkai refleksi ini, ada bebarapa paradigma dan pola pendekatan yang perlu dibenahi. Pertama, beralih dari rasionalitas instrumental yang mengabdi pada teknologi kepada rasionalitas nilai. Rasionalitas nilai mengedepankan pertimbangan etis daripada pertimbangan mekanis-objektivistik dalam relasi dengan alam. Itu berarti, etika lingkungan harus menjadi dasar dan orientasi dari setiap riset, eksperimentasi ilmiah dan segala bentuk aktivitas pengelolaan sumber daya alam, bukan sebaliknya.

Kedua, pendekatan partnership. Pendekatan ini menekankan keberadaan alam sebagai “sahabat-rekan” manusia. Hal ini mengindikasikan bahwa peran dominatif dan superioritas yang mengobjektivasi alam harus ditinggalkan demi terwujudnya persaudaraan kosmik.

Ketiga, pendekatan civilisasi alam. Dalam pendekatan model ini kita menyadari keberadaan kita sebagai bagian dari alam, bukan sebagai sentrum. Alam dilihat sebagai makrokosmos, sedangkan eksistensi manusia dilihat sebagai mikrokosmos. Dalam civilisasi alam, kita mendayagunakan alam untuk memenuhi kebutuhan eksistensial kita tetapi bukan mengeksploitasi dan mengobjektivasinya. Kita harus mampu berdialog dengan dan mendengarkan alam tetapi sekaligus mengontrolnya.

Keempat, pendekatan unio-mistika. Pada tahap ini kita diajak untuk sedapat mungkin membangun kesatuan mistik dengan alam. Dalam kesatuan mistik ini terjadi pembauran yang mendalam, nirdiferensiasi dan nirmediasi. Hanya dalam tingkatan mistik yang paling dalam, kita bisa menyapa elemen-elemen kosmos sebagai Engkau—sebagai jejak dari Yang Transenden. Pendek kata, dalam kesatuan mistik, kita melihat segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini sebagai bentuk pengukapan diri Pencipta sendiri, sebagaimana kita juga adalah citra Pencipta.

 Penulis adalah Fransiskan, sedang belajar di STF Driyarkara, Jakarta