Charles Lelu Umbu Sogar Ame Talu

Oleh: CHARLES LELU UMBU SOGAR AME TALU OFM

Beberapa Minggu terakhir, kita dihebohkan dengan berita tentang beras plastik. Terlepas dari benar tidaknya isu tersebut, pertanyaan yang muncul dalam benak saya, sudah begitu parahkah kepedulian pada hidup banyak orang sehingga barang yang menjadi kebutuhan vital itu harus dibuat dari plastik?

Sudah tidak mampu lagikah kita menghasilkan beras sehingga harus membeli beras plastik bahkan mengimpornya? Ini tentu bukan hanya soal orang mencari keuntungan, tetapi lebih dari itu, ada celah yang dimanfaatkan “oknum” tertentu, ada kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi, oleh pemerintah maupun masyarakat.

Kita tidak perlu bertanya, apakah beras plastik ini, juga sudah sampai di Manggarai? Yang perlu kita tanyakan tentu saja, apakah kelaparan masih menjadi masalah pokok masyarakat Manggarai sehingga suatu saat jangan-jangan beras plastik juga akan menjadi menu pokok masyarakat Manggarai yang mayoritas petani itu.

Kebijakan Bidang Pertanian

Kita tidak pernah berharap bahwa hal semacam ini akan sampai juga di tanah Manggarai Raya. Bahkan, jangan sekali-kali hal itu terjadi di tanah Manggarai Raya. Bagaimana mungkin Manggarai Raya yang mayoritas petani harus menikmati beras oplosan?

Karena itu, isu ini sejatinya mengingatkan sekali lagi, pertama-tama bagi pemerintah yang memiliki kuasa mengambil kebijakan, agar kembali memberi perhatian yang lebih besar terhadap sektor pertanian yang nyata-nyata lebih banyak menyumbangkan pemasukan bagi daerah.

Kita semua tahu, bahwa kita memiliki sumber daya yang melimpah. Hanya, sudahkan sumber daya yang melimpah ini, baik sumber alamnya maupun sumber daya manusianya diatur sedemikian rupa sehingga makin berbuah untuk kesejahteraan petani?

Tidak dapat dipungkiri, banyak kebijakan dan program pemerintah yang seringkali tidak terlalu berdaya guna bagi para petani. Bila para petani gagal panen, pernakah itu juga dianggap sebagai kegagalan pemerintah dalam mengolah potensi pertanian di Manggarai?

Selain itu, peran Gereja Manggarai juga sangat dibutuhkan dalam membantu kehidupan ekonomi umat, terutama soal makan dan minum yang berasal dari kebun mereka sendiri. Banyak usaha pastoral untuk para petani tentu saja sudah dikembangkan, akan tetapi itu belum menjadi gerak bersama.

Ekopastoral yang digerakan oleh para Fransiskan di Pagal, Cibal, juga belum menjadi hal yang dilirik sebagai salah satu potensi yang bisa dikembangkan dan menjadi gerak bersama untuk membantu para petani Manggarai. Mungkin lantaran itu pula, gerakan ekopastoral tidak menjadi pilihan bagi pemerintah kita agar masuk menjadi agenda mereka juga.

Kedaulatan Petani

Kebijakan tentu bukan satu-satunya faktor penentu. Isu beras plastik yang meresahkan ini di sisi lain mengingatkan kita akan pentingnya profesi sebagai petani. Bayangkan kalau para petani tidak bekerja dan tidak menghasilkan beras. Bukan tidak mungkin beras plastik menjadi pilihan. Maka sebenarnya profesi sebagai petani adalah sangat mulia karena menyangkut pemenuhan kebutuhan paling penting dari banyak orang.

Isu ini mengingatkan para petani untuk bangga menjadi petani yang mempunyai tugas sungguh amat mulia. Kedaulatan yang penuh di tengah isu krisis pangan seperti ini hanya ada dalam genggaman para petani.

Karena itu, tidak salah jika profesi sebagai petani itu sangat mulia, sangat berdaulat dan menyangkut hajat hidup banyak orang. Kebanggaan ini tentu saja akan semakin meningkat jika didukung oleh banyak pihak, terutama pemerintah dan Gereja.

Penulis adalah calon imam Fransiskan dan staf di JPIC-OFM Indonesia